Tak Cuma Minyak – Harga Sulfur Naik Rp22,4 juta/ton Akibat Perang!

Tak Cuma Minyak, Harga Sulfur Naik Rp22,4 Juta/Ton Akibat Perang!

Perang yang berlangsung di berbagai wilayah dunia mulai berdampak luas pada pasar bahan baku industri, termasuk sulfur. Kenaikan harga sulfur di pasar global telah menimbulkan ancaman serius bagi proses hilirisasi nikel di Indonesia. Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman dari Timur Tengah, disebut sebagai penyebab utama kenaikan tajam harga bahan ini.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengungkapkan bahwa sulfur kini mencapai harga US$960 hingga US$1.300 per ton, atau setara Rp16,5 juta hingga Rp22,4 juta per ton. Angka ini berbeda jauh dari April 2025, ketika harga masih sekitar US$275 per ton. “Harga sulfur kini mencapai lebih dari US$960 hingga US$1.300 per ton, meningkat signifikan dibandingkan bulan April tahun lalu yang hanya berkisar US$275 per ton,” jelas Arif kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).

Produksi nikel campuran hidroksida presipitasi (MHP) kelas baterai memerlukan asam sulfat dalam proses pelindian. Sulfur menjadi komponen utama dalam pembuatan asam sulfat ini, sehingga sangat krusial bagi industri hilirisasi nikel menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).

Menurut Arif, untuk menghasilkan 1 ton nikel dalam bentuk MHP dibutuhkan sekitar 10-12 ton sulfur. Hal ini membuat sulfur sebagai komponen biaya paling besar dalam produksi HPAL. “Indonesia sebagai negara produsen utama material nikel-kobalt (MHP) dari proyek HPAL sangat bergantung pada impor sulfur dari Timur Tengah,” tambahnya.

Dalam 2025, total impor sulfur mencapai sekitar 5,3 juta ton, dengan 75-80% berasal dari kawasan Timur Tengah. Penutupan jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz memperparah ketergantungan ini, karena pengiriman sulfur bisa terganggu. “Ketika Selat Hormuz ditutup, pasokan sulfur ke dalam negeri bisa terhambat hingga terputus, sehingga mengganggu operasional refinery HPAL,” kata Arif.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kelangkaan sulfur secara global. Karena pasokan sangat terkonsentrasi, gangguan pada jalur distribusi bisa mengakibatkan kenaikan harga sulfur secara signifikan. “Kelangkaan sulfur di tingkat global akan meningkatkan biaya produksi, terutama bagi perusahaan yang mengandalkan bahan ini untuk operasional pabriknya,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *