Visit Agenda: Orang Arab Bawa Kapal Besar ke Sumatra Cari Tanaman Disebut Al-Qur’an
Orang Arab Bawa Kapal Besar ke Sumatra Cari Tanaman Disebut Al-Qur’an
Komunitas Arab dikenal sebagai para pelaku perdagangan sejak dulu. Mereka tercatat menjelajah berbagai wilayah, termasuk Indonesia, untuk mengumpulkan berbagai bahan dagangan. Salah satu komoditas yang dicari adalah kapur barus, yang dalam tradisi Arab disebut kafur. Nama ini muncul dalam Surat Al-Insan ayat 5, yang berbunyi: “
‘Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.’
“
Dalam kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, halaman 7790, disebutkan bahwa kaafuur dianggap sebagai istilah yang merujuk pada bahan yang berbentuk putih dan beraroma wangi. Bahan ini berasal dari pohon kayu yang tumbuh di hutan-hutan pulau Sumatra. Meski terkenal, tanaman ini bukan asli di Arab, sehingga mendorong para pedagang melakukan perjalanan ke wilayah timur bumi.
Kedatangan mereka ke Indonesia secara spesifik dikaitkan dengan daerah Barus, yang kini dikenal sebagai Fansur. Sejarawan Claude Guillot dalam bukunya Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyatakan bahwa orang Arab tiba di Barus melalui perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon (Sri Lanka), lalu sampai ke Pantai Barat Sumatra. Mereka membawa kapal besar untuk mengangkut kapur barus yang diminati pasar internasional.
Ptolemy, ahli Romawi, sudah menyebut nama Barus pada abad ke-1 Masehi. Perlahan, wilayah ini menjadi pusat penghasil kapur barus yang berkualitas tinggi, mengalahkan produk dari Malaya dan Kalimantan. Karena itu, arus perdagangan ke Barus semakin meningkat. Dalam catatan Ibn Al-Faqih, pada era 902 M, Fansur disebut sebagai daerah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Sementara Ibn Sa’id al Magribi, yang hidup di abad ke-13, juga merinci bahwa produksi kapur barus berasal dari Sumatra.
Kehadiran pedagang Arab di Barus tidak hanya untuk dagang, tetapi juga untuk menyebarkan agama Islam. Proses Islamisasi terjadi di tempat-tempat yang menjadi jalur pelayaran mereka, seperti Barus (Fansur), Thobri (Lamri), dan Haru. Jejak awal agama Islam di Indonesia diduga kuat tercatat pada abad ke-7 Masehi, berdasarkan keberadaan kompleks makam kuno Mahligai di Barus. Nisan di sana berasal dari masa tersebut, menjadi bukti kuat akan peran Arab dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara.