Topics Covered: Saatnya perempuan Indonesia menentukan arah

Saatnya perempuan Indonesia menentukan arah

Jakarta – Perjalanan sejarah Indonesia sering kali dimulai dari keberanian seseorang yang mampu melewati batas-batas zamannya. Salah satu tokoh penting dalam perjalanan ini adalah Raden Ajeng Kartini, yang lahir di Jepara pada tahun 1879. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga priyayi Jawa yang menghargai tradisi, namun tidak terjebak dalam keterbatasan yang menghalangi keberlanjutan pertumbuhan. Pendidikan dasar menjadi pengalaman awalnya sebelum harus berpindah ke fase hidup yang lebih tertutup.

Pada masa pingitan, perempuan Indonesia umumnya terbatas dalam kebebasan keluar masuk rumah, tidak diberi kesempatan melanjutkan pendidikan, dan disiapkan untuk peran tradisional sebagai pelengkap dalam kehidupan sosial. Kartini, meski terkurung dalam sistem tersebut, tidak menyerah. Ia mengeksplorasi literatur Eropa, menyerap gagasan modern, serta menjalin komunikasi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Surat-suratnya menjadi sarana untuk menyuarakan ketidakadilan yang dialami perempuan, termasuk pertanyaan mengapa mereka tidak boleh belajar secara mendalam dan mengapa hanya menjadi bagian dari struktur sosial yang statis.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” – judul buku yang diterbitkan pada 1911, menjadi kumpulan surat-surat Kartini yang menginspirasi perubahan. Buku ini membentuk dasar kesadaran tentang pentingnya pendidikan dan kesetaraan gender di Tanah Air.

Wafatnya Kartini pada 1904, beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya, tidak mengakhiri perjuangan perempuan. Sebaliknya, ia membuka jalan bagi gelombang transformasi yang terus bergerak, memengaruhi kebijakan pendidikan, gerakan perempuan, hingga pandangan masyarakat terhadap peran mereka. Lebih dari satu abad kemudian, perempuan Indonesia telah menunjukkan kehadiran yang semakin kuat di ruang-ruang yang dahulu dianggap tertutup.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan akses pendidikan perempuan kini setara dengan laki-laki di berbagai tingkatan. Bahkan di beberapa kelompok usia, capaian mereka lebih unggul. Perempuan juga aktif di berbagai sektor, dari kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi kreatif. Kini, mereka mulai menempati posisi kepemimpinan di tingkat lokal dan nasional. Namun, dari perspektif Kongres Wanita Indonesia dan delegasi Women20, capaian ini perlu dilihat lebih dalam.

Meski perempuan semakin terlibat dalam kehidupan ekonomi dan sosial, kesenjangan antara partisipasi dan pengaruh tetap mengemuka. Dalam forum global, isu ini menjadi topik utama. Banyak perempuan yang hadir, tetapi belum selalu memegang posisi menentukan arah kebijakan. Pemimpin perempuan pun belum proporsional dalam pengambilan keputusan strategis, meskipun mereka memiliki pendidikan tinggi.

Laporan UN Women menegaskan bahwa kesenjangan antara akses dan kepemimpinan adalah tantangan sistemik global. Perjuangan perempuan Indonesia kini memasuki fase baru: bukan hanya membuka pintu, tetapi memastikan siapa yang bisa menjadi pengemudi perubahan. Pemikiran Kartini, yang dahulu dianggap khas untuk zamannya, kini menjadi fondasi untuk mengejar kesetaraan yang lebih nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *