Harga Batu Bara Bangkit – Ada Peringatan Bahaya dari Lembaga Dunia

Harga Batu Bara Bangkit, Peringatan Bahaya dari Lembaga Dunia

Jakarta, harga batu bara melonjak kembali setelah dua hari terus menurun. Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Kamis (16/4/2026), harga batu bara ditutup di US$ 125,75 per ton, naik 0,64%. Kenaikan ini mengakhiri penurunan harga sebesar 5,7% dalam dua hari terakhir.

Kenaikan harga minyak yang mencapai 4% pada hari Kamis berkontribusi terhadap kenaikan harga batu bara. Analisis terbaru dari Wood Mackenzie menunjukkan gangguan pasokan energi di Timur Tengah mendorong permintaan dan harga batu bara termal global meningkat. Banyak negara kembali memilih batu bara sebagai sumber daya utama untuk menjaga pasokan listrik, terutama karena keterbatasan pasokan LNG melalui Selat Hormuz.

Penyesuaian Pasar Energi

Pengurangan pasokan LNG memicu kenaikan harga gas global, sehingga memaksa utilitas dan industri kembali menggunakan batu bara untuk pembangkit listrik. Perpindahan ini paling terlihat di Asia dan Eropa, di mana keamanan energi mulai mendahului target dekarbonisasi jangka pendek.

“Dalam situasi gangguan pasokan seperti ini, batu bara berperan sebagai cadangan penting untuk stabilitas energi,” ujar Sushmita Vazirani, analis utama komoditas curah di Wood Mackenzie, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Di sisi lain, tekanan pasokan juga meningkat. Wood Mackenzie mencatat biaya produksi batu bara marjinal sebelum gangguan sekitar US$112 per ton, dan diperkirakan akan naik karena harga minyak mentah yang lebih tinggi. Setiap kenaikan US$10 per barel minyak dapat meningkatkan biaya tambang batu bara sebesar US$1-3 per ton, terutama karena kenaikan harga diesel yang memengaruhi operasional alat berat dan transportasi.

Perkembangan ini menggambarkan konflik antara kebutuhan energi dan komitmen iklim. Meski banyak negara berjanji mengurangi ketergantungan pada batu bara, kondisi pasar saat ini memaksa perubahan sementara. Dengan pasar LNG yang tertekan dan risiko geopolitik yang berlanjut, batu bara kembali menjadi bahan bakar cadangan utama dunia.

Contoh nyata pergeseran ini mencakup Taiwan yang bersiap mengaktifkan kembali PLTU Hsinta 2,1 GW, yang menelan 5,5 juta ton batu bara per tahun. Korea Selatan meningkatkan ambang batas impor batu bara Rusia, sementara Jepang mengandalkan tenaga nuklir, termasuk pengoperasian kembali reaktor Kashiwazaki-Kariwa Unit 6, untuk mengurangi biaya LNG. Di Eropa, Italia mempertimbangkan memulai kembali produksi batu bara, terutama karena pasar ARA sangat bergantung pada impor gas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *