Key Discussion: Ramai-Ramai Perusahaan RI Saling Caplok, Siapa Saja?

Ramai-Ramai Perusahaan RI Saling Caplok, Siapa Saja?

Memasuki separuh pertama tahun 2026, pasar modal Indonesia dihiasi oleh sejumlah pengumuman strategis dari emiten besar. Aktivitas seperti divestasi aset luar negeri, penguasaan kepemilikan perusahaan, hingga pengembangan bisnis ke sektor baru menunjukkan upaya optimalisasi struktur modal. Setiap transaksi memiliki strategi jangka panjang dan alasan ekonomis yang bertujuan meningkatkan efisiensi serta nilai perusahaan.

PT Singaraja Putra Tbk (SINI)

Di bidang pertambangan, SINI sedang memperkuat dominasi melalui pembelian 99,995% saham PT Kemilau Mulia Sakti dari PT Petrosea Tbk. Nilai transaksi mencapai Rp1,73 triliun, yang setara 110,27% dari total aset perusahaan hingga akhir 2025. Untuk mendanai operasi ini, SINI mempersiapkan rights issue dengan emisi maksimal 721,5 juta saham baru. Dengan harga saham sekitar Rp5.000, perseroan bisa mengumpulkan dana segar hingga Rp3,61 triliun.

Dana tambahan akan digunakan untuk memperkuat modal kerja dan membayar utang. Transaksi ini telah disetujui dalam rapat pemegang saham tanggal 26 Mei 2026, dan diharapkan meningkatkan kesehatan neraca. Ekuitas perusahaan diprediksi berubah dari negatif Rp687 miliar menjadi positif Rp1,54 triliun. Aset juga meningkat dari Rp1,57 triliun menjadi Rp4 triliun, sementara rasio liabilitas terhadap aset turun dari 1,44 kali menjadi 0,62 kali.

PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE)

PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk mengalami perubahan kepemilikan yang signifikan. Pada 15 April 2026, PT Penajam Makmur Jaya resmi mengambil alih 71,22% saham BIKE dari keluarga Mulyadi. Transaksi ini tidak melibatkan hubungan afiliasi, sehingga memicu wajibnya penawaran tender kepada pemegang saham publik.

Pergantian pengendali dilakukan untuk memulihkan kinerja finansial yang terpuruk. BIKE mencatat rugi bersih Rp24,4 miliar pada 2025, berbanding terbalik dengan laba Rp12,6 miliar di periode sebelumnya. Sahamnya juga terpuruk dari Rp18,89 menjadi rugi per saham. Pemimpin baru diharapkan mengubah arah operasional dan menstabilkan profitabilitas.

PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN)

PT Teladan Prima Agro Tbk meluncurkan rencana ekspansi besar-besaran. Belanja modal tahun 2026 diproyeksikan melebihi Rp600 miliar, dengan fokus pada pembangunan pabrik pengolahan sawit senilai Rp50-60 miliar dan pembangkit listrik biogas sekitar Rp40-50 miliar. Proyek ini diharapkan selesai akhir tahun 2026.

Di samping pengembangan organik, TLDN tetap menempatkan akuisisi perusahaan sawit sebagai fondasi pertumbuhan. Kesuksesan pengambilalihan PT Cipta Davia Mandiri senilai Rp136,32 miliar di 2025 meningkatkan kepercayaan manajemen. Pendapatan perusahaan naik 28,42% menjadi Rp5,42 triliun, didorong kenaikan harga minyak sawit 14,5%. Target laba dua digit untuk 2026 pun semakin realistis.

PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)

Dalam sektor jasa maritim, ELPI memperkuat armada dengan memenangkan tender kapal multi-purpose support vessel di Singapura. Transaksi senilai USD 46,5 juta atau Rp790,5 miliar diperoleh melalui PT ELPI Trans Cargo. Untuk menyelesaikan pembelian, perusahaan menggunakan fasilitas pinjaman pihak ketiga sebesar Rp633,4 miliar.

Pinjaman ini berbunga 9% per tahun dengan tenor maksimal sembilan bulan, menuju refinancing. Langkah ini diambil karena perlambatan proses perbankan formal yang memperpanjang waktu pengadaan kapal. Meski meningkatkan beban liabilitas, armada baru diyakini mampu meningkatkan kapasitas operasional secara signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *