Key Strategy: Amerika Panen dari Perang Iran, Ekspor Minyak Tembus Rekor
Amerika Panen dari Perang Iran, Ekspor Minyak Tembus Rekor
Perang Iran berdampak signifikan terhadap perubahan arus perdagangan minyak global. Banyak negara mulai mencari sumber pasokan baru, salah satunya dari Amerika Serikat, sebagai solusi saat jalur Selat Hormuz terganggu. Aliran minyak mentah dan bahan bakar dari Teluk Meksiko hingga pantai timur AS bergerak cepat ke arah timur, mencatatkan volume ekspor yang mengesankan.
“Ekspor minyak mentah AS mencapai 5,44 juta barel per hari pada April 2026, dengan proyeksi kenaikan ke 5,48 juta barel per hari di bulan berikutnya,” kata laporan Kpler yang dikutip Reuters.
Peningkatan ini mengubah dinamika pasar. Asia, wilayah yang terdampak paling besar akibat penghentian suplai dari Timur Tengah, mulai menyerap pasokan tambahan dari AS. Namun, kenaikan ekspor AS belum cukup mengimbangi defisit pasokan yang terjadi. Per April, total ekspor ke Asia hanya 14,8 juta barel per hari, turun dari 18,63 juta di bulan sebelumnya.
Sebelum konflik memanas, ekspor minyak AS ke Asia mencapai 1,11 juta barel per hari di Januari. Pada Mei, angka itu melonjak hampir tiga kali lipat, menjadi 3,29 juta barel per hari. Meski begitu, kebutuhan global masih jauh lebih besar dari pasokan yang tersedia. Cadangan komersial menjadi sumber penambalan sementara, tetapi batasnya terbatas.
Produsen energi AS terlihat memperoleh manfaat dari situasi ini. Harga tinggi dan permintaan mendesak menciptakan pasar yang menarik. Namun, konsumen domestik juga terkena dampak karena pasokan yang sama ikut diminati oleh pembeli di luar negeri. Saat harga minyak ke Asia lebih menarik, permintaan lokal menjadi kurang prioritas.
Pasokan bahan bakar jadi juga mengalami perubahan. Ekspor produk olahan AS naik ke 3,59 juta barel per hari di April, dibandingkan 2,83 juta di Januari. Meski ada peningkatan, Asia masih memperoleh 386 ribu barel per hari dari AS, yang jauh lebih sedikit dibanding level sebelum konflik. Perusahaan AS harus mengembalikan cadangan strategis yang dipinjam, dengan total 172 juta barel tersedia dari Maret hingga Juli.
Apabila ekspor AS mulai menurun di Juli, sementara Hormuz tetap tertutup, tekanan pada Asia bisa melonjak. Saat itu, pasar akan bersaing lebih ketat, mencari sumber pasokan apa pun yang tersedia, bukan hanya yang murah.