Key Strategy: Gerak Senyap di Pasar Minyak hingga Hormuz Kembali Ditutup
Gerak Senyap di Pasar Minyak hingga Hormuz Kembali Ditutup
Pasar minyak mentah global kembali terdampak ketidakpastian, setelah sejumlah kejadian yang mencurigakan terjadi di sekitar pengumuman pembukaan Selat Hormuz. Dalam laporan terbaru dari Reuters pada 17 April 2026, investor melakukan transaksi besar-besaran, dengan menjual 7.990 lot kontrak Brent hanya dalam jangka waktu singkat—antara pukul 12.24 hingga 12.25 GMT. Nilai transaksi ini diperkirakan mencapai 760 juta dolar AS, yang berlangsung tepat sebelum Menteri Luar Negeri Iran mengumumkan pembukaan selat tersebut. Pengumuman tersebut akhirnya menyebabkan harga minyak jatuh hingga 11% pada hari yang sama.
Kekhawatiran Terhadap Transaksi Tepat Waktu
Gerakan transaksi yang sangat akurat ini memicu kecurigaan di antara para ahli dan pemerintah Amerika Serikat. Kepastian informasi mengenai diplomasi serta keputusan perang di Timur Tengah dinilai menjadi faktor pendorong keuntungan bagi pihak tertentu di pasar derivatif. Hal ini menegaskan adanya indikasi bahwa kejadian serupa sebelumnya bukanlah kebetulan. Sebelumnya, pada 7 April, taruhan sebesar 950 juta dolar AS tercatat dilakukan beberapa jam sebelum AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata. Sementara pada 23 Maret, investor menjual aset senilai 500 juta dolar AS hanya 15 menit sebelum Presiden Donald Trump memutuskan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Penutupan Ulang Selat Hormuz
Sementara proses penyelidikan oleh Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) sedang berlangsung, situasi geopolitik kembali berubah. Informasi terbaru pada Sabtu (19/4/2026) menyebutkan bahwa Iran telah menutup kembali Selat Hormuz, mengembalikan keadaan pemblokade yang sebelumnya dianggap telah dibuka. Tindakan ini secara langsung membatalkan kelonggaran terkini yang memungkinkan kapal komersial beroperasi bebas. Dengan posisi sebagai jalur utama pengiriman minyak mentah, penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global serta mengubah dinamika harga di pasar internasional.
“Artikel ini adalah hasil analisis jurnalistik dari CNBC Indonesia Research. Tujuan utamanya adalah menyampaikan wawasan, bukan mengarahkan pembaca untuk mengambil keputusan investasi. Segala risiko dan keuntungan tetap menjadi tanggung jawab individu pembaca.”
Penutupan ulang Selat Hormuz memperkuat pernyataan bahwa ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor utama dalam pergerakan harga minyak. Kebijakan Iran yang diubah-ubah ini menunjukkan bahwa permainan strategis di pasar bisa terjadi bahkan sebelum pengumuman resmi. Semua transaksi dianggap terkait dengan upaya memanipulasi harga, dengan keuntungan mungkin dialami oleh pihak yang lebih cepat mendapatkan informasi sensitif.