Meeting Results: Inggris Kebanjiran Sarjana Tapi Banyak Gelar Danggap Kurang Berguna
Inggris Kebanjiran Sarjana, Tapi Banyak Gelar Dinilai Kurang Berguna
Sejak lebih dari satu dekade lalu, Inggris mempromosikan pendidikan tinggi sebagai jalan pasti menuju kualitas hidup yang lebih baik. Meski biaya kuliah melonjak tiga kali lipat pada 2012, jumlah pendaftar universitas tetap tinggi. Aula kampus tidak pernah sepi, dan ijazah terus dicetak. Menurut laporan The Economist pada 2024, sekitar 60% generasi muda Inggris memiliki kualifikasi pendidikan setelah menyelesaikan sekolah menengah. Angka ini naik dari 48% pada 2012.
Perubahan Pandangan Terhadap Pendidikan Tinggi
Kini, Inggris mulai mempertanyakan apakah jumlah mahasiswa yang masuk universitas terlalu besar. Isu utang pendidikan kembali mencuri perhatian setelah partai Konservatif mengusulkan pengurangan 100.000 penerimaan baru per tahun. Pada 2024, ada 652.525 orang yang memulai program sarjana. Dengan semakin banyak mahasiswa meminjam dana, beban sistem pinjaman pendidikan pun meningkat. Jika jumlah peserta dikurangi, pemerintah berharap ada ruang fiskal untuk mengurangi bunga utang lulusan lama.
Kualifikasi Masuk yang Makin Longgar
Sorotan muncul terkait standar penerimaan mahasiswa yang semakin longgar. Kompetisi antar kampus membuat proses seleksi dinilai kurang ketat. Pada 2024, lebih dari 10% mahasiswa program sarjana penuh waktu diterima tanpa A-Level atau kualifikasi setara. Dua dekade lalu, persentase ini hanya sekitar 3%. Sejumlah besar mahasiswa dari kelompok ini gagal menyelesaikan studi, mencapai 25%, dua kali lipat rata-rata nasional. Kampus menerima lebih banyak siswa, tetapi sebagian besar keluar dengan utang dan tanpa gelar.
Nilai Ekonomi Jurusan Kuliah Dipertanyakan
Perdebatan lain menyentuh dampak finansial dari gelar tertentu. Institute for Fiscal Studies pada 2020 meneliti hubungan antara pendidikan dan pendapatan, lalu menghitung pengaruhnya seumur hidup. Hasilnya mengejutkan: sekitar seperlima lulusan diperkirakan lebih baik bila tidak kuliah sama sekali. Jurusan seni kreatif, pertanian, dan bahasa Inggris menjadi sorotan, dengan 7% mahasiswa memilih seni kreatif. Bagi sebagian lulusan, kenaikan pendapatan setelah wisuda terlalu kecil untuk menutupi biaya kuliah dan bunga pinjaman.
“Sisa utang mahasiswa yang belum lunas bisa dihapus setelah 30 tahun. Artinya, jika pendapatan lulusan rendah, tagihan akhirnya berpindah ke negara,”
Studi 2019 menunjukkan lulusan seni kreatif rata-rata hanya mampu mengembalikan sekitar seperempat dari pinjaman mereka. Dengan ini, Inggris sedang menghitung ulang nilai sebuah ijazah. Kini, pertanyaan muncul: apakah universitas tetap menjadi mesin mobilitas sosial, atau sudah berubah menjadi jalur mahal dengan hasil yang timpang?