New Policy: Tak Cuma Rudal, Amerika Habis-Habisan Pakai Barang Langka Demi Perang

Tak Hanya Rudal, Ketergantungan AS pada Bahan Langka Jadi Sorotan

Jakarta – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak hanya menciptakan ketegangan geopolitik dan memicu kekhawatiran pasar global, tetapi juga menyoroti tekanan terhadap logistik dan industri pertahanan. Operasi militer AS ke Iran, yang dinamai Operation Epic Fury, diluncurkan oleh Komando Pusat AS di Timur Tengah, U.S. Central Command (CENTCOM), pada 28 Februari 2026 berdasarkan instruksi dari presiden. Seiring berjalannya konflik, fokus mulai bergeser ke sumber daya militer yang dikeluarkan Washington dalam waktu singkat.

Logistik Militer AS Terbebani

Dalam beberapa hari pertama perang, AS terpaksa menghabiskan amunisi secara masif. Menurut laporan J.P Morgan, jumlah rudal dan senjata yang digunakan melampaui proyeksi pengiriman tahunan 2026. Contohnya, 319 rudal Tomahawk habis dalam enam hari, padahal estimasi pengiriman tahunan hanya sekitar 190 unit. Sementara itu, 83 Standard Missile 3 digunakan, yang lebih tinggi dari jumlah yang diperkirakan akan dikirimkan sepanjang fiskal 2026 (FY 2026). Bahkan, Joint Air-to-Surface Standoff Missile dan Terminal High Altitude Area Defense interceptor digunakan tanpa adanya antisipasi pengiriman pada periode tersebut.

“Penggunaan amunisi dalam hitungan hari menunjukkan intensitas konflik modern yang sangat tinggi,” kata laporan J.P Morgan.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa amunisi militer AS, jika dipakai terus-menerus dalam tempo yang sama, akan habis dalam 12-34 hari tergantung jenisnya. Misalnya, Army Tactical atau Precision Strike Missile hanya cukup untuk 12 hari, sementara GBU-57 Massive Ordnance Penetrator bisa bertahan hingga 13 hari.

Dampak pada Ketersediaan Mineral Kritis

Konflik ini juga mengakibatkan tekanan terhadap akses bahan baku strategis, terutama mineral kritis. Dalam 96 jam pertama serangan, AS dikabarkan menghabiskan ratusan kilogram mineral seperti kobalt, wolfram, dan amonium perchlorat. Meski jumlah tersebut masih relatif kecil dibanding konsumsi tahunan, ketergantungan pada pasokan global menjadi isu utama.

Mineral kritis seperti neodymium, samarium, dan dysprosium, misalnya, diimpor sebagian besar dari Tiongkok, yang menyumbang 48% kebutuhan AS. Sementara itu, Tiongkok juga menjadi pemasok utama untuk tantalum, gallium, dan germanium. Ini berarti, semakin lama perang berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap industri pertahanan dan rantai pasok internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *