Special Plan: Harga Emas Naik Turun Bak Roller Coaster, Bandar Berburu Harga Murah
Harga Emas Naik Turun Bak Roller Coaster, Bandar Berburu Harga Murah
Harga emas mengalami kenaikan pada Rabu, setelah mengalami penurunan sebelumnya. Namun, penguatan dolar AS berpotensi mengurangi daya tarik logam mulia. Aksi beli saat harga murah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas. Investor masih memantau kemungkinan dimulainya kembali perundingan damai antara AS dan Iran.
Mengutip Refinitiv, harga emas ditutup pada Rabu (22/4/2026) di US$ 4737,78 per troy ons, naik 0,55%. Penguatan ini memberi sedikit harapan setelah harga emas turun 2,3% dalam dua hari terakhir. Dalam sepekan terakhir, fluktuasi emas terjadi dengan cepat, baik naik maupun turun secara drastis.
Geopolitik Menjadi Faktor Utama
Kenaikan emas pada hari ini sebagian besar dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik. Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz pada Rabu, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa blokade terhadap Iran akan terus berlangsung. Selain itu, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon kembali terancam setelah tiga korban tewas akibat serangan drone Israel.
“Aksi bargain hunting terlihat jelas setelah kerugian di pasar emas dan perak pada Selasa,” ujar Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals, kepada Reuters.
Kondisi pasar masih rapuh, dengan ketidakpastian yang memengaruhi keputusan investasi. Harga emas turun sekitar 11% sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, terutama karena kenaikan harga minyak yang memicu khawatir inflasi.
Perak Juga Mengalami Fluktuasi
Harga perak meningkat 1,3% pada Rabu (22/4/2026) ke US$ 77,70 per troy ons. Meski demikian, kenaikan ini terjadi dalam kondisi yang masih terbatasi. Pada Kamis (23/4/2026) pukul 06.30 WIB, harga perak turun 0,2% menjadi US$ 77,49 per troy ons.
“Emas menerima sedikit dukungan dari harapan situasi di Selat Hormuz bisa segera tuntas setelah pernyataan Trump,” katanya Bart Melek, kepala strategi komoditas global TD Securities.
Kevin Warsh, calon Ketua Federal Reserve, mengatakan pada Selasa tidak ada janji untuk memangkas suku bunga kepada Trump. Ia menegaskan komitmen independensi dari Gedung Putih sambil mendorong reformasi lebih luas. Suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi permintaan terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.