Topics Covered: Amerika Malah Bikin Yuan China Makin Perkasa, Trump Salah Strategi?
Amerika Malah Memperkuat Yuan China, Strategi Trump Dianggap Kurang Efektif?
Di Jakarta, dolar AS tetap memegang dominasi sebagai mata uang utama global. Namun, perang antara AS dan Iran, sanksi ekonomi, serta ketidakpastian geopolitik membuat sejumlah negara dan perusahaan mulai mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada dolar. Salah satu pilihan yang semakin menarik perhatian adalah yuan China. Dilansir dari The Economist, upaya Xi Jinping untuk menjadikan yuan sebagai mata uang internasional yang lebih kuat kini memperoleh momentum. Meski yuan belum sepenuhnya menggantikan dolar AS, penggunaannya dalam transaksi lintas negara mulai meningkat.
CIPS: Jalur Pembayaran Alternatif China
Dalam beberapa tahun terakhir, China aktif membangun sistem pembayaran alternatif, baik konvensional maupian digital. Tujuannya untuk melewati dominasi infrastruktur keuangan global yang berpusat pada dolar AS. Salah satu indikator utama adalah Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), yang menjadi jalur pembayaran lintas batas milik China. Aktivitas CIPS melonjak pada Maret, mencapai 920 miliar yuan atau setara US$134 miliar per hari, melebihi rata-rata tahun lalu yang sebesar 680 miliar yuan. Pada 1 April, volume transaksi bahkan mencapai 1,2 triliun yuan.
“Data terbaru menunjukkan bahwa kenyataan perlahan mengejar retorika China dalam meningkatkan penggunaan yuan,” kata Josh Lipsky dari Atlantic Council, lembaga think-tank Washington.
Transaksi Minyak dan Bunga Lebih Rendah
Iran menjadi salah satu pelaku yang mendorong kenaikan aktivitas yuan. Sejak lama, negara itu bersedia menerima pembayaran yuan untuk ekspor minyak, yang dikirim ke kilang independen di China. Meski volume minyak turun, nilai per barel meningkat tajam. Selain itu, Iran juga mungkin menerima yuan sebagai imbalan izin kapal melewati Selat Hormuz. Dalam pertemuan IMF bulan ini, sebagian besar dana yang masuk dari Teheran berbentuk yuan, bukan kripto, menurut Lipsky.
Lonjakan CIPS tidak hanya disebabkan oleh transaksi minyak. Aliran modal, sebagian dari China, yang keluar dari kawasan Teluk juga berkontribusi. Selain itu, gejolak keuangan global akibat krisis berperan. Menurut perbankan China, transaksi obligasi, saham, dan investasi portofolio antarnegara mencapai US$712 miliar pada Maret, naik 40% dibandingkan rata-rata tahun lalu.
Xi Jinping sebelumnya menyatakan bahwa China perlu memiliki mata uang “kuat” untuk mendukung ekonominya. Meski yuan masih jauh dari dominasi dolar AS, keberhasilan dalam transaksi lintas batas memperkuat ekspektasi. Para pemimpin China kini lebih optimis, karena yuan mulai menjadi pilihan yang lebih stabil bagi negara-negara yang khawatir dengan kebijakan AS terhadap dolar.
Restoran Tasty Congee & Noodle Wantun Shop di Hong Kong menjadi contoh nyata penggunaan yuan. Mereka menerima pembayaran dalam dolar Hong Kong maupun yuan, bahkan e-CNY. Namun, maître d’ di tempat tersebut mengakui pelanggan jarang menggunakan e-CNY. Jumlah pedagang yang menerima bentuk uang digital ini sudah lebih dari 5.000, tetapi adopsinya belum merata.