New Policy: Kekurangan tenaga kerja dan risiko penggajian: Remote menemukan 72% bisnis di dunia gagal mencapai target utama
Kekurangan Tenaga Kerja dan Risiko Penggajian: 72% Bisnis Global Gagal Mencapai Tujuan Utama
Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebingungan dalam sistem pembayaran membuat 46% perusahaan internasional menghentikan rekrutmen di luar negeri, mendorong perusahaan untuk merevisi strategi manajemen sumber daya manusia (SDM). Jakarta, Indonesia, (ANTARA/PRNewswire) – Saat ini, bisnis menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin rumit dalam upaya mempercepat pertumbuhan. Remote, platform SDM terkemuka, mengungkapkan temuan kritis tentang hambatan spesifik yang mengganggu eksplorasi pasar internasional.
Isu Kinerja dan Tantangan Transparansi
Kenaikan biaya hidup, kebutuhan akan transparansi gaji, serta kesulitan dalam mengatur penggajian lintas negara menjadi hambatan utama yang mengakibatkan perusahaan harus memperbaiki strategi retensi mereka. Kekurangan tenaga kerja berkualitas berpotensi mengganggu pertumbuhan bisnis. Berdasarkan survei terhadap 3.650 pemimpin SDM di 10 negara, laporan terbaru Remote menemukan bahwa 72% perusahaan gagal mencapai tujuan utama mereka dalam 12 bulan terakhir karena kesulitan menemukan talenta yang sesuai.
“Mengandalkan proses manual yang terpecah dalam penggajian internasional meningkatkan risiko tak perlu dan menghambat laju pertumbuhan perusahaan,” kata Barry Flanagan, Wakil Presiden Penggajian di Remote. “Perangkat lunak otomatis memberikan fondasi yang dibutuhkan bisnis untuk berkembang lintas batas secara berkelanjutan.”
Transparansi gaji menjadi kunci dalam membangun kepercayaan. Riset menunjukkan bahwa 82% pimpinan SDM mengalami tekanan dari karyawan untuk kenaikan upah dalam setahun terakhir. Meskipun kenaikan gaji tergantung pada performa bisnis, kepercayaan yang terbangun melalui transparansi memungkinkan perusahaan mempertahankan staf secara lebih efektif. Dari 3.650 responden, 77% percaya transparansi pembayaran menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil dan sehat.
Mengatasi Hambatan Penggajian dan Ekspansi
Dalam upaya memperluas tenaga kerja global, perusahaan menghadapi kesulitan mengatur sistem pembayaran yang kompleks. Data dari Remote menyebutkan bahwa 46% bisnis memutuskan untuk tidak merekrut tenaga kerja dari luar negeri karena kesulitan dalam proses penggajian. Selain itu, hampir 30% perusahaan lokal menganggap sistem gaji mereka sebagai ancaman aktif. Tiga puluh tiga persen perusahaan juga menghadapi persyaratan keamanan data yang ketat, sementara 30% mengalami kesulitan memenuhi aturan di berbagai lokasi.
Perusahaan pun menghadapi tantangan dalam mengelola alat dan vendor yang tidak terintegrasi dalam proses penggajian. Tiga puluh satu persen responden menilai hal ini sebagai hambatan signifikan. “Menggunakan metode manual yang tidak terhubung memperlambat pertumbuhan bisnis dan meningkatkan risiko operasional,” tambah Flanagan.
Laporan Tenaga Kerja Global dibuat melalui survei internasional yang melibatkan lebih dari 3.600 pimpinan bisnis di 10 negara, termasuk Singapura, Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, Prancis, Belanda, Swedia, Spanyol, Australia, Jepang, dan Korea Selatan. Laporan lengkap dapat diakses dan diunduh di sini.