Dimusnahkan di Jakarta – Ikan Sapu-Sapu Makanan Sehari-hari di Brasil
Dimusnahkan di Jakarta, Ikan Sapu-Sapu Jadi Makanan Utama di Brasil
Ikan sapu-sapu yang kini ditemukan di Jakarta tidak berasal dari wilayah Indonesia. Spesies ini justru hidup di Sungai Amazon, Amerika Selatan, dan sering dikonsumsi oleh warga sekitar daerah tersebut. Di sana, ikan ini menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang tinggal di tepi sungai.
Berdasarkan catatan dari Phys.org, rata-rata konsumsi ikan di Brasil mencapai 462 gram per orang per hari, yang hampir 20 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Di Sungai Amazon, ikan sapu-sapu atau Acari menjadi komponen utama dalam rantai makanan, bersama dengan spesies lain seperti Aracu, Pirancha, Pirarucu, Caparari, dan Tucunare.
Kontaminasi Logam Berat Berdampak pada Kesehatan
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ikan di Sungai Amazon berisiko mengandung logam berat. Studi yang diterbitkan di jurnal ACS Omega memantau konsentrasi arsenik, kadmium, merkuri, dan timbal pada enam spesies ikan tersebut. Semua sampel terbukti mengandung unsur berbahaya, dengan Acari dan Pirarucu menunjukkan kadar arsenik tertinggi, yang bisa meningkatkan risiko kanker.
Menurut data, 25% dari sampel melebihi ambang batas risiko yang diterima internasional. Kontaminasi ini berasal dari berbagai faktor, seperti penambangan emas ilegal dan penggunaan alat berat di Sungai Tapajos. Aktivitas penambangan bauksit di Porto Trombetas dan Juruti juga berkontribusi, karena menghasilkan limbah alkali kaya arsenik, kadmium, serta timbal.
Selain itu, merkuri alami terbentuk dari deforestasi akibat pertanian kedelai yang meningkat selama 23 tahun. Kandungan logam ini berpindah ke sungai melalui tanah Amazon, lalu menetap dalam tubuh ikan-ikan yang hidup di perairan tersebut.
Indonesia Juga Menghadapi Masalah Serupa
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu yang diangkut ke Jakarta memiliki kadar logam berlebih. Ia menambahkan belum ada kajian resmi yang menyatakan keamanan ikan ini untuk dikonsumsi atau dijadikan pakan ternak.
“Untuk dimanfaatkan, ikan tersebut belum bisa digunakan. Sebelum ada kajian resmi yang menjamin aman dikonsumsi atau menjadi pakan ternak, residu logam berat masih di atas ambang batas,” kata Hasudungan.
Ikan sapu-sapu juga tinggal di perairan dengan kadar oksigen rendah dan tercemar, yang berpotensi memperburuk dampak kontaminasi. Situasi ini membuat risiko kesehatan bagi konsumen menjadi lebih tinggi, terutama jika ikan berasal dari sumber tercemar di Indonesia.