Latest Program: Kolaborasi Kementan dan ITS Perkuat Hilirisasi Energi dan Alsintan Nasional untuk Kemandirian Teknologi

Kolaborasi Kementan dan ITS Perkuat Hilirisasi Energi dan Alsintan Nasional untuk Kemandirian Teknologi

Kementerian Pertanian (Kementan) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperkuat kerja sama strategis dalam bidang hilirisasi energi serta alat pertanian nasional. Tujuan utamanya adalah mendorong kemandirian teknologi Indonesia dan memastikan ketahanan pangan berbasis inovasi lokal. Kerja sama ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor teknologi.

Transformasi Pertanian Berbasis Inovasi

Dalam acara Wisuda ke-133 ITS di Surabaya, Minggu (19/4), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk mendorong modernisasi sektor pertanian. Menurutnya, ITS memiliki solusi inovatif yang sangat relevan dengan kebutuhan pertanian dan energi saat ini. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat perubahan pertanian menjadi sistem yang lebih efisien dan modern.

“Indonesia harus mampu mandiri dalam pengembangan teknologi pertanian. Ketergantungan pada impor teknologi harus diminimalisir demi kedaulatan pangan,” ujar Mentan Andi Amran Sulaiman.

Proyek Hilirisasi Teknologi

Salah satu inovasi yang dikembangkan bersama adalah Benwit, bensin berbahan baku kelapa sawit yang berpotensi mengurangi impor bahan bakar fosil. Uji coba menunjukkan bahwa Benwit mampu mencapai campuran 70 persen (E70) tanpa mengganggu kinerja mesin kendaraan. Inovasi ini dipimpin oleh Prof Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc, dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS.

Selain itu, ITS juga merancang MOCITS, alat panjat kelapa yang telah dipesan Kementan sebanyak 10 unit. Alat ini dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi para petani. Inovasi perahu traktor listrik khusus untuk lahan rawa juga menjadi bagian dari upaya adaptasi teknologi sesuai kondisi geografis Indonesia.

Upaya Peningkatan Ekonomi Pertanian

Mentan Amran menyebut potensi hilirisasi kelapa dan sawit sangat besar, dengan nilai ekonomi yang bisa mencapai Rp10 ribu triliun. Pemanfaatan optimal dari hulu hingga hilir akan menghasilkan produk turunan seperti air kelapa, minyak kelapa murni, hingga susu kelapa yang memiliki permintaan ekspor tinggi.

Dukungan untuk Komersialisasi Inovasi

Untuk mempercepat distribusi hasil riset, ITS menandatangani nota kesepahaman dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV. BUMN agribisnis ini diharapkan membantu proses komersialisasi inovasi ITS. Mentan mendorong para peneliti kampus agar segera mematenkan ide-ide inovatif tersebut.

“Jika produk ini berhasil 100 persen setelah uji coba, maka akan diteruskan kepada Bapak Presiden untuk distribusi lebih luas,” tambah Mentan.

Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menggarisbawahi komitmen kampus dalam menghasilkan solusi sesuai kebutuhan industri dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kolaborasi dengan pemerintah adalah kunci untuk menciptakan dampak nyata dari inovasi. ITS berkomitmen terus mengembangkan produk yang relevan dan aplikatif.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto juga mengapresiasi peran universitas dalam hilirisasi pertanian. Ia menyoroti pentingnya kontribusi kampus dalam mendorong teknologi yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *