Main Agenda: Fenomena Warteg Kekinian, Tanda Kelas Menengah Makin Terjepit

Fenomena Warteg Kekinian, Tanda Kelas Menengah Makin Terjepit

Munculnya restoran modern berkonsep warteg di wilayah Senopati, Jakarta, menjadi perbincangan hangat di platform media sosial. CNBC Indonesia menemukan adanya Salira, tempat makan baru yang berasal dari Union Group, melalui konten viral di TikTok. Beberapa pengguna media sosial menyebutnya sebagai “warteg fancy” yang menggabungkan nuansa klasik dengan fasilitas lebih lengkap.

Dalam konsep Salira, hidangan rumahan seperti terong balado, tahu-tempe bacem, sambel goreng kentang, telor gulai, dan gorengan tetap tersaji. Namun, tampilan restoran ini lebih mewah dengan etalase kaca, gorden vitrase, serta kerupuk kresek yang memperpanjang di dekat kasir. Perbedaannya terletak pada ruang yang luas, terbagi menjadi zona outdoor, indoor, dan lantai dua yang diakses melalui lift kaca. Meja dan kursi di sini lebih nyaman serta tidak berbagi, berbeda dengan tradisi nongkrong di warteg biasa.

“Warteg kekinian menjadi salah satu wujud adaptasi mereka [kelas menengah]. Mereka mencari tempat yang tetap bisa untuk rekreatif, tetapi harganya terjangkau karena sesuai dengan kondisi finansial,”

Kelompok masyarakat menengah yang sebelumnya biasa menghabiskan uang untuk makan di kafe kini terpaksa mengubah gaya hidup. Fenomena ini menunjukkan respons terhadap kondisi ekonomi makro yang menurunkan kasta sebagian besar keluarga menengah. Menurut data BPS, selama 2019-2024, 9,48 juta orang turun kelas ke kategori menengah rentan atau rentan miskin. Tahun 2025, jumlah kelas menengah Indonesia kembali menurun hingga 1,1 juta orang, mencapai 46,7 juta dari sebelumnya 47,9 juta.

Ekonomi global yang tidak stabil, ditambah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak pandemi, memperparah situasi. Pada Agustus-November 2025, data BPS mencatat 7,35 juta orang mengalami pengangguran. “Kemunculan warteg-warteg kekinian menjadi indikasi dari situasi ekonomi atau daya beli masyarakat yang sedang menurun, sementara lifestyle belum bisa [ikut] menurun secara radikal,”

“Jadi bukan wartegnya yang elevated, tetapi kelas menengah yang de-elevated,”

Pengamat budaya popular Hikmat Darmawan mengungkapkan, keberadaan restoran ini mencerminkan upaya kelas menengah untuk mempertahankan kebiasaan makan di luar. Meski biaya lebih tinggi dibandingkan warteg tradisional, harga di restoran modern ini tidak sampai berkali-kali lipat. Nilai tambah utamanya adalah suasana yang lebih menarik untuk bersantai.

Beberapa contoh warteg kekinian yang sebelumnya sempat populer, seperti Cahaya Selatan di Panglima Polim (tutup sejak Maret 2026), Wareqpol di Cideng (tutup sejak Januari 2026), dan Rumanasi yang memiliki cabang di Cikajang dan Puri Indah. Di Cikajang, Rumanasi menawarkan paket nasi dengan variasi menu, termasuk nasi teri, nasi ayam, nasi tongkol, dan nasi sapi. Harga paket ini berkisar Rp15.000-Rp29.000. Seorang pengunjung membayar Rp55.000 untuk nasi sapi Shanghai dan minuman es teh lemon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *