New Policy: Shanghai masih terbuka untuk bisnis UMKM asing, termasuk Indonesia
Shanghai Tetap Mendorong Investasi dari Usaha Kecil dan Menengah Asing, Termasuk Indonesia
Pemerintah Shanghai menyatakan bahwa kota metropolitan tersebut masih terbuka bagi pengembangan bisnis dari perusahaan kecil dan menengah (UMKM) luar negeri, termasuk usaha dari Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Komisi Perdagangan Shanghai, Shen Weihua, kota ini terus menciptakan lingkungan usaha yang kondusif untuk pertumbuhan UMKM. Ia menegaskan bahwa Shanghai berharap UMKM lokal bisa berkembang seiring pertumbuhan ekonomi kota tersebut.
“Shanghai selama ini memperkuat iklim usaha yang mendukung pertumbuhan usaha kecil dan menengah. Kami juga ingin semua jenis usaha kecil dan menengah di sini dapat berkembang bersama kota ini,” ujar Shen dalam temu media yang digelar oleh Dewan Negara China.
Dalam penyataannya, Shen menyebutkan bahwa hingga 2025, Shanghai telah menampung sekitar 68 ribu UMKM asing. Dari jumlah tersebut, 91 persen bergerak di sektor pertanian, sementara 10 persen lainnya termasuk dalam industri manufaktur. Meski demikian, jumlah perusahaan manufaktur yang beroperasi di Shanghai tetap signifikan.
Shen menjelaskan bahwa UMKM memilih Shanghai karena berbagai keunggulan, seperti infrastruktur transportasi yang canggih, kemudahan akses modal, rantai industri yang lengkap, daya tahan sektor jasa, tenaga kerja berpendidikan tinggi, serta lingkungan bisnis yang sesuai standar internasional. Pemerintah Shanghai juga menyediakan sistem pembinaan untuk UMKM unggul, yang bisa berkembang menjadi perusahaan besar dan mampu melakukan IPO.
Dalam bidang layanan, Shanghai terus membangun sistem pendukung usaha kecil dan menengah secara menyeluruh. Mekanisme manajemen pengelolaan keluhan usaha juga dijalankan untuk menyelesaikan masalah umum yang sering menghambat operasional. Shen menegaskan bahwa semua jenis perusahaan dianggap setara, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan layanan berkualitas tinggi.
UMKM Indonesia Diharapkan Terintegrasi ke Rantai Pasok China
Sebelumnya, Menteri UMKM Indonesia, Maman Abdurrahman, di Beijing menyampaikan niat untuk mengintegrasikan usaha kecil dan menengah Indonesia ke dalam sistem rantai pasok di China. Ia menekankan pentingnya kolaborasi strategis agar UMKM bisa masuk ke ekosistem industri yang terstruktur. Penguatan klaster berbasis sektor dan integrasi ke jaringan produksi regional, menurutnya, akan meningkatkan skala usaha, efisiensi, serta daya saing UMKM.
“UMKM perlu didorong untuk masuk ke dalam ekosistem industri yang terstruktur melalui kemitraan strategis. Penguatan klaster berbasis sektor dan integrasi ke dalam jaringan produksi regional akan meningkatkan skala usaha, efisiensi, serta daya saing berkelanjutan UMKM,” tutur Maman.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit, dengan kontribusi sebesar 61,9 persen terhadap PDB. Usaha ini juga menyerap 119 juta tenaga kerja, atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional. Sementara itu, menurut data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, jumlah UMKM di Tiongkok pada akhir 2024 telah melebihi 60 juta, dengan pendapatan mencapai 81 triliun yuan (sekitar 11,2 triliun dolar AS). Di antara total tersebut, 600.000 UMKM fokus pada inovasi teknologi, termasuk 14.600 perusahaan UKM “raksasa kecil” yang spesialisasi di bidang khusus.
Shanghai secara administratif berada langsung di bawah pemerintahan pusat Tiongkok dan dikenal sebagai kota metropolitan modern yang internasional. Pada 2025, PDB kota ini mencapai 5,67 triliun RMB (sekitar Rp14,19 kuadriliun), sedangkan nilai transaksi pasar keuangan mencapai 4.059 triliun RMB (sekitar Rp10,16 kuadriliun). Nilai perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) kota tersebut juga mencapai 4,51 triliun RMB (sekitar Rp11,29 kuadriliun). Pelabuhan Shanghai terus mempertahankan posisinya sebagai pelabuhan peti kemas terbesar dunia selama 16 tahun berturut-turut, dengan volume pengelolaan lebih dari 55,063 juta TEUs pada 2025.
Anggaran belanja riset dan pengembangan (litbang) sebagai bagian dari PDB Shanghai mencapai sekitar 4,5 triliun RMB.