Polda sebut oknum polisi terlibat kasus pabrik narkoba di Semarang
Polda Sebut Oknum Polisi Terlibat Kasus Pabrik Narkoba di Semarang
Jakarta – Polda Metro Jaya mengonfirmasi adanya keterlibatan seorang anggota Polri dalam kasus penyitaan industri narkotika golongan I jenis Zenith yang beroperasi di wilayah Mijen, Semarang, Jawa Tengah. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa oknum tersebut memiliki pangkat Bharaka dan berinisial P. “Benar dan masih didalami peran sertanya, mohon waktu ya,” ujarnya dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.
Dalam pengungkapan industri narkoba rumahan (clandestine laboratory) tersebut, dua orang telah ditahan, sementara delapan lainnya statusnya sebagai daftar pencarian orang (DPO). Operasi ini dimulai berdasarkan laporan masyarakat mengenai adanya keberadaan obat berbahaya di Jakarta Barat. Budi menyebutkan petugas melakukan penyelidikan intensif sebelum mengamankan seorang pria berinisial P di Penjaringan, Jakarta Utara, dengan barang bukti 120.000 butir Zenith.
“Melalui serangkaian penyelidikan dan pengintaian, petugas mula-mula mengamankan seorang pria berinisial P di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, dengan barang bukti 120.000 butir Zenith,” kata Budi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Budi menjelaskan bahwa P diduga berperan sebagai kurir di bawah kendali tersangka utama berinisial D, yang mengelola pabrik dari luar kota. Tim gabungan langsung bergerak ke Semarang, Jawa Tengah, untuk melakukan pengejaran. Pada Kamis (9/4), petugas berhasil menangkap D di kediamannya dan menemukan gudang yang diubah menjadi laboratorium produksi narkotika.
“Di lokasi tersebut, polisi menyita 186.000 butir tablet Zenith siap edar serta 1,83 ton bahan baku prekursor yang siap dicetak menjadi jutaan butir obat terlarang,” kata Budi.
Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan bahwa fokus utama dari pengungkapan ini bukan hanya nilai materiil, tetapi juga dampak keselamatan publik. “Keberhasilan menggagalkan peredaran lebih dari 4,3 juta butir Zenith ini secara langsung telah menyelamatkan sedikitnya 4,3 juta jiwa anak bangsa dari risiko kerusakan saraf permanen hingga kematian,” tambahnya.