Breaking News! IHSG Tancap Gas – Dibuka Langsung Naik 1,4%

Breaking News! IHSG Tancap Gas, Dibuka Langsung Naik 1,4%

Pagi ini, Selasa (14/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka sesi perdagangan dengan kenaikan 1,4% atau 105,19 poin, mencapai level 7.605,38. Sebanyak 425 saham menguat, 73 mengalami penurunan, dan 461 saham tidak bergerak. Volume transaksi pasar mencapai Rp 662,6 miliar, melibatkan 923,7 juta lot saham dalam 80,560 kali perdagangan. Kapitalisasi pasar juga meningkat menjadi Rp 13,515 triliun.

Dipengaruhi oleh data makroekonomi kawasan Asia seperti neraca perdagangan Tiongkok dan PPI Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik yang memanas akibat ketidakberhasilan mencapai kesepakatan perdamaian antara Iran dan AS. Tensi konflik terus memanas karena militer AS memblokir kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran sejak Senin, sementara Teheran mengancam akan membalas dengan menghalangi kapal negara-negara tetangga di Teluk.

Trump menyatakan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan menolak kesepakatan yang memungkinkan Teheran mendapatkan senjata tersebut. “Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kita tidak bisa membiarkan sebuah negara memeras atau mengancam dunia,” ujarnya.

Sekutu NATO termasuk Inggris dan Prancis mengungkapkan sikap yang tetap konsisten. Mereka menekankan pentingnya membuka kembali jalur laut yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Meski demikian, kekhawatiran terhadap ketahanan gencatan senjata dua pekan yang dicapai pekan lalu masih menghiasi perhatian pasar. Harga minyak juga kembali naik, menyentuh US$100 per barel, tanpa tanda-tanda pembukaan cepat Selat Hormuz untuk meredakan gangguan pasokan terbesar sejak terjadi.

Dengan efek dari konflik antara AS, Israel, dan Iran, tekanan pada ekonomi global terus merambat ke Indonesia. Tiga jalur utama terlibat dalam proses ini: pertama, ketidakpastian finansial mendorong investor menjauh dari aset risiko, memperkuat dolar AS dan melemahkan nilai tukar Rupiah. Kedua, kenaikan harga minyak global memberi dampak tidak langsung positif terhadap ekspor Indonesia seperti batu bara, CPO, nikel, dan emas. Ketiga, gangguan rantai pasok logistik berpotensi memicu stagflasi, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi yang disertai inflasi tinggi.

Di tengah tantangan tersebut, kondisi ekonomi domestik dinilai stabil. Inflasi yang sempat meningkat akibat efek basis rendah dari pencabutan subsidi listrik kini mulai menurun dan berada di bawah target Bank Indonesia, yaitu 2,5% ± 1%. Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi juga dianggap kritis dalam menjaga daya beli rakyat sekaligus memperkuat Rupiah. Dengan indikator produksi yang tetap ekspansif, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diperkirakan mencapai 5,2%.

Sebagai langkah mitigasi, Bank Indonesia menyiagakan pemantauan pasar 24 jam. Pihaknya memaksimalkan kantor perwakilan di London dan New York, serta melakukan intervensi likuiditas secara terukur di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF) global, maupun Domestic NDF (DNDF).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *