Key Strategy: Survei Cyrus: Publik dukung program MBG namun minta perbaikan
Survei Cyrus: Program MBG Dapat Dukungan Publik, Tapi Butuh Perbaikan
Jakarta – Sebuah survei nasional yang dilakukan Cyrus Network mencatat bahwa sebagian besar masyarakat masih menyukai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, sekitar separuh responden menilai perlunya adakan perbaikan dalam pelaksanaannya agar program tersebut bisa berjalan lebih optimal. Menurut Syahril Ilhami, Peneliti Utama Cyrus Network, angka dukungan terhadap MBG mencapai 65,4 persen. Angka ini menunjukkan dua dari tiga warga Indonesia masih mengharapkan manfaat dari program tersebut.
“Dukungan publik untuk MBG mencapai 65,4 persen. Artinya, sekitar 2 dari 3 penduduk Indonesia masih yakin dengan manfaat program ini. Namun, 45,6 persen masyarakat merasa program butuh peningkatan dalam cara penyelenggaraannya. Jumlah ini cukup signifikan, hampir 70 persen dari pendukung MBG menginginkan perbaikan,” ujarnya dalam presentasi daring di Jakarta, Selasa.
Dukungan tersebut, menurut Ilhami, didorong oleh manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, terutama dalam pemenuhan gizi dan pengurangan beban ekonomi keluarga. Ia menyebutkan tiga faktor utama yang mendorong keberhasilan program ini: pertama, membantu peningkatan gizi masyarakat (31,5 persen), kedua, mengurangi beban ekonomi rumah tangga (28,4 persen), serta ketiga, mendukung kesehatan anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui (23 persen).
Kelompok lain juga melihat manfaat tambahan dari MBG, seperti pemerataan kesejahteraan, dampak jangka panjang bagi generasi muda, serta dukungan terhadap usaha kecil menengah (UMKM) dan petani lokal. Namun, manfaat tersebut dianggap lebih kecil dibandingkan alasan utama dukungan.
Evaluasi masyarakat terhadap pelaksanaan MBG terungkap dalam survei. Catatan utama menyebutkan sejumlah kritik, di antaranya soal kualitas makanan (22,3 persen), ketepatan sasaran (11,7 persen), dan kinerja pelaksanaan yang dinilai kurang baik (30,1 persen). Ilhami menilai masukan ini penting bagi Badan Gizi Nasional sebagai pengelola program MBG.
“Evaluasi masyarakat terhadap MBG menunjukkan pelaksanaan yang kurang memuaskan, kualitas makanan yang diragukan, serta ketepatan sasaran yang dinilai kurang. Hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan program,” ujarnya.
Survei juga menemukan tingkat pemahaman masyarakat tentang MBG sangat tinggi, mencapai 98,6 persen. Dari jumlah itu, 61,6 persen responden mengaku keluarga mereka langsung merasakan manfaat, sementara 11,3 persen lainnya merasa dampaknya tidak langsung.
Ilhami menjelaskan, tingkat pengetahuan yang tinggi ini menunjukkan MBG sudah cukup dikenal dan dirasakan oleh berbagai lapisan, termasuk mereka yang berperan dalam rantai pasok seperti dapur dan pemasok bahan pangan.
Dinamika dukungan publik juga tercatat dalam survei. Dari 1.260 responden yang ditemui di 126 desa atau kelurahan di 38 provinsi, 51,2 persen mengatakan dukungan mereka sudah ada sejak awal peluncuran program. Sementara itu, 17,2 persen mengaku dukungan meningkat. Namun, 30,9 persen lainnya menyatakan tingkat dukungan turun.
Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,82 persen. Penelitian dilakukan pada periode 1–5 April 2026.