Latest Program: Mengapa Blokade Hormuz Ala Trump Jadi Judi Berbahaya?

Mengapa Blokade Hormuz Ala Trump Jadi Judi Berbahaya?

Jakarta, Presiden AS Donald Trump dikritik karena keputusan memblokir lalu lintas kapal ke dan dari wilayah pesisir Iran. Tindakan ini dianggap risiko besar, bukan hanya karena bisa memperburuk krisis energi global, tetapi juga berpotensi memicu konflik lebih luas. Blokade mulai berlaku 13 April 2026, saat AS dan Israel sedang berperang melawan Iran sejak 28 Februari tahun yang sama.

Strategi Blokade dan Ekspektasi Politik

Tindakan Trump bertujuan menekan Iran melalui tekanan ekonomi, setelah serangan militer tidak berhasil mengubah sikap Teheran. Menurut analisis, blokade memungkinkan AS menghentikan, menaiki, dan menyita kapal dengan efisiensi tinggi. Contohnya, AS pernah menyita 10 kapal tanker Venezuela selama Desember hingga Februari 2026. Dengan hanya menangkap beberapa kapal, pihak AS ingin memberikan sinyal tegas.

“AS tidak harus menangkap semua kapal, cukup beberapa untuk memberi pesan jelas,” kata Purnawirawan laksamana muda AS Mark Montgomery.

Secara ekonomi, strategi ini diharapkan memutus sumber pendapatan utama Iran. Ernest Censier dari Vortexa memperkirakan produksi minyak Iran bisa turun signifikan dalam 20 hari jika blokade berjalan penuh. Namun, tidak semua pihak yakin tekanan ini akan langsung membuat Iran menyerah.

“Iran sudah memperkirakan gangguan ekspor minyak akibat perang, tetapi tetap mampu bertahan,” jelas Esfandyar Batmanghelidj dari Bourse & Bazaar Foundation.

Risiko pada Pangan dan Pasar Energi

Iran bergantung pada impor melalui jalur laut, terutama untuk bahan pokok seperti gandum dan jagung. Sekitar 20% gandumnya datang dari Uni Emirat Arab, sementara jagung mayoritas berasal dari Brasil dan Ukraina. Jika pasokan terganggu, harga pangan bisa melonjak. Harga makanan di Iran pada Maret 2026 sudah 110% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi energi, kehilangan produksi minyak Iran mungkin belum memicu bencana, tetapi situasi ini berdampingan dengan penurunan pasokan minyak Teluk yang lebih besar. Selat Hormuz, sebagai jalur utama, masih tertutup sebagian besar. Hal ini bisa mendorong negara-negara pengimpor menguras cadangan energi yang terbatas, dan berpotensi menaikkan harga kontrak berjangka minyak Brent hingga US$100 per barel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *