Important News: Kemendukbangga minta masyarakat tak lagi normalisasi candaan seksual
Kemendukbangga Minta Masyarakat Tidak Lagi Menormalisasi Candaan Seksual
Dari Jakarta, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak masyarakat untuk menghindari normalisasi candaan seksual yang merendahkan perempuan, meski selama ini dianggap lumayang. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Kemendukbangga dan BKKBN, Budi Setiyono, dalam respons terhadap insiden pelecehan seksual yang terjadi di grup pesan singkat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).
Teori Tekanan Kelompok dan Ruang Digital
Budi menjelaskan, candaan seksual sering kali dianggap wajar, padahal seharusnya tidak boleh dipertahankan. Ia menyebutkan, fenomena ini sering terjadi karena tekanan kelompok, membuat individu lebih mudah mengikuti norma kelompok agar diterima oleh sesama teman sebaya.
“Candaan seksual yang merendahkan perempuan, mengandung kekerasan simbolik, dan mengobjektifkan individu bukan sekadar humor, melainkan bisa menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi banyak orang, khususnya perempuan,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa ruang digital, seperti percakapan privat, bisa menjadi sarana memperkuat budaya pelecehan seksual jika tidak ditangani secara serius. “Apa yang dibicarakan di media digital bisa merefleksikan nilai, sikap, dan potensi perilaku dalam dunia nyata, jadi tidak boleh dianggap remeh,” lanjut Budi.
Pengaruh pada Lingkungan Akademik
Budi menyoroti dampak dari candaan seksual, termasuk bentuk digital, terhadap korban. “Tindakan ini bisa menyebabkan tekanan psikologis, kecemasan, hingga trauma, terutama bagi individu yang rentan,” kata dia.
“Selain itu, kasus seperti ini berpotensi merusak integritas lingkungan akademik, yang seharusnya mendukung etika, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ujarnya.
Menyikapi hal tersebut, Budi meminta semua pihak untuk bergerak bersama menangani masalah ini agar tidak terus berkembang. “Ruang digital bukanlah ruang kosong, tetapi cerminan dari interaksi sosial nyata. Jadi, kita perlu lebih awas dan bertindak tegas,” pungkasnya.