Announced: Teladan hebat dari Paus Leo XIV di tengah kecamuk Perang Iran
Teladan hebat dari Paus Leo XIV di tengah kecamuk Perang Iran
Di Jakarta, Paus Leo XIV tidak hanya menjadi pemimpin Gereja Katolik. Ia juga seorang penghimbau kebajikan yang melebihi batas keagamaan, nasional, dan budaya. Bagi beliau, keadilan, kasih sayang, dan nilai-nilai moral adalah hal yang universal, tidak terbatas oleh perbedaan apa pun. Oleh karena itu, beliau bersuara tegas menentang ketidakadilan, sekaligus menjadi penjaga kebenaran di tengah kacau balau konflik.
Paus Leo XIV menolak pemaksaan agama untuk kepentingan politik. Ketika para pemimpin yang sama agamanya dengan mayoritas penduduk Iran saling bertikai mengenai perbedaan antara Syiah dan Sunni, beliau mengkritik penggunaan agama sebagai alasan untuk perang. Beliau tak peduli siapa yang dihadapi oleh AS dan Israel—apakah itu warga sipil atau tokoh politik—karena dia percaya perang tidak boleh dijustifikasi hanya berdasarkan perbedaan keyakinan.
“Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang terlibat dalam perang, melainkan menolaknya,” ujar Paus Leo XIV dalam pernyataan yang dipublikasikan media global, termasuk Reuters.
Menanggapi upaya Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menyebut perang terhadap Iran sebagai perang suci, beliau menegaskan bahwa agama bisa dimanipulasi untuk tujuan militer. Di Iran, perang yang dilakukan AS dan Israel dianggap ilegal karena tidak melalui persetujuan PBB, tidak didukung parlemen AS, dan tidak memiliki alasan yang jelas. Sebelumnya, Iran belum pernah menyatakan perang terhadap AS, sementara AS dan Israel melakukan serangan mulai akhir Februari.
Dalam pandangan Paus Leo, serangan terhadap Iran bukan hanya menghancurkan manusia dan bangunan, tapi juga menggugat identitas budaya dan peradaban. Hal ini melebihi kekerasan perang biasa, karena menyerang jejak sejarah dan literatur bangsa. Perbandingan ini mengingatkan pada invasi Mongol abad ke-13 yang menghancurkan banyak kerajaan, termasuk Daulah Abasyiah.
Leo, yang merupakan Kardinal pertama dari Amerika Serikat, memang mewakili perubahan dalam sejarah Tahta Suci. Keterpilihannya pada tahun 2025 menandai akhir tren yang mengabaikan kontribusi AS dalam kepemimpinan gereja. Namun, suara beliau semakin keras ketika Presiden Donald Trump mengancam untuk menghancurkan peradaban Iran. “Jika saya tidak ada di Gedung Putih, Paus tidak akan berada di Vatikan,” kata Trump dengan sikap angkuh.
Dalam desakan beliau, umat manusia di seluruh dunia diminta untuk mengingat korban-korban perang, seperti anak-anak, lansia, dan orang sakit. Paus Leo berharap para pemimpin dunia segera mengakhiri konflik yang sedang berlangsung di Iran. Karena menurutnya, menghancurkan peradaban berarti mengikis jejak sejarah umat manusia—sesuatu yang lebih mengerikan dari perang itu sendiri.