New Policy: Mentan ungkap sembilan strategi pemerintah wujudkan swasembada pangan

Menteri Pertanian Sebut 9 Langkah Strategis untuk Mewujudkan Swasembada Pangan

Jakarta – Dalam sebuah pernyataan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa pemerintah telah menerapkan delapan langkah utama untuk mendukung swasembada pangan. Menurutnya, target awal yang diperkirakan memakan waktu empat tahun berhasil dipersingkat menjadi satu tahun berkat transformasi yang dilakukan Kementerian Pertanian.

Reformasi Kebijakan dan Regulasi

Strategi pertama melibatkan penyederhanaan ratusan aturan serta penerbitan minimal 16 dokumen kebijakan strategis dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) dan Instruksi Presiden (Inpres). Hal ini bertujuan mempercepat produksi pangan, memastikan distribusi yang lebih efisien, dan meningkatkan sinergi antar sektor. “Kita melakukan perbaikan mulai dari kebijakan, termasuk penyederhanaan regulasi yang sebelumnya memerlukan persetujuan 12 menteri, 38 gubernur, dan 514 kepala daerah,” jelas Andi Amran.

“Kebijakan regulasi kita perbaiki. Sampai hari ini, sudah ada 16 Perpres-Inpres yang dikeluarkan sektor pangan untuk mempermudah kegiatan pertanian di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Penghematan dan Pengoptimalan Sumber Daya

Dalam upaya meningkatkan produktivitas, pemerintah melakukan penyesuaian alokasi sumber daya. Contohnya, kebijakan pupuk diubah dengan menurunkan harga hingga 20 persen dan menambah volume hingga 9,55 juta ton. Selain itu, akses petani diperluas dengan menggunakan KTP sebagai alat identifikasi.

“Contoh pupuk, harga turun 20 persen. Tidak pernah terjadi sebelumnya sejak Republik ini merdeka. Volume juga ditingkatkan,” ujarnya.

Realokasi Anggaran untuk Sektor Produktif

Langkah lainnya adalah efisiensi anggaran melalui refocusing ke sektor produktif. Total realokasi mencapai Rp3,8 triliun, dialokasikan untuk pembangunan irigasi, pengembangan benih unggul, pompanisasi, serta peralatan pertanian. “Kita cabut anggaran untuk biaya perjalanan dinas, hotel, dan rehab kantor yang tidak mendesak, lalu arahkan ke proyek strategis,” jelasnya.

Intensifikasi Pertanian

Strategi intensifikasi menargetkan peningkatan indeks pertanaman hingga dua hingga tiga kali. Dalam praktiknya, penggunaan benih unggul memungkinkan produktivitas mencapai 9 hingga 10 ton per hektare. Selain itu, program optimalisasi lahan rawa berhasil menambah luas tanam sebanyak 800 ribu hektare, sehingga total peningkatan mencapai 1,3 juta hektare.

Ekstensifikasi dan Infrastruktur Air

Ekstensifikasi dilakukan melalui program cetak sawah baru yang menambah luas lahan pertanian sekitar 200 ribu hektare. Sementara itu, pembangunan dan revitalisasi 61 bendungan dengan kapasitas irigasi 400 ribu hektare menjadi langkah kunci untuk meningkatkan cadangan air.

Modernisasi Teknologi Pertanian

Pertanian modern dipercepat dengan pemanfaatan mesin, drone, dan teknologi presisi. Teknologi ini terbukti menurunkan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil panen hingga 100 persen. “Dengan alat modern, kita bisa mengoptimalkan efisiensi sekaligus meningkatkan kualitas hasil pertanian,” katanya.

Peningkatan Koordinasi dan Pengawasan

Reformasi kelembagaan termasuk evaluasi pejabat, rotasi sebanyak 248 orang, serta pembersihan distribusi pupuk. Ribuan izin distribusi dicabut untuk memastikan program berjalan tepat sasaran. “Dengan ini, distribusi pupuk bisa lebih cepat dari Kementerian Pertanian ke petani melalui PT Pupuk Indonesia,” kata Andi Amran.

Intervensi Pasar untuk Stabilitas Harga

Strategi terakhir adalah peran Perum Bulog yang diperkuat dalam menyerap gabah petani dengan skema “any quality” seharga Rp6.500 per kilogram. Langkah ini bertujuan menjaga harga gabah stabil serta meningkatkan cadangan beras pemerintah.

“Dengan kombinasi semua strategi, produksi beras naik sekitar 4,07 juta ton atau 13,29 persen. Ini lebih dari kebutuhan domestik yang hanya 2,5–2,6 juta ton per bulan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *