Key Discussion: Viral ‘Educate Your Son’ di Medsos, Psikolog Soroti Pola Asuh Keluarga

Viral ‘Educate Your Son’ di Medsos, Psikolog Soroti Pola Asuh Keluarga

Kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus belakangan ini memicu perbincangan kembali tentang peran pola asuh dalam membentuk cara pandang laki-laki terhadap perempuan. Template “Educate your son” yang viral di media sosial, menurut psikolog anak dan keluarga Mira Amir, menjadi pengingat bahwa nilai dan perilaku anak banyak ditentukan oleh lingkungan keluarga.

Nilai Keluarga Menjadi Fondasi Utama

Mira Amir menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk nilai anak. “Dampaknya besar dan signifikan. Terutama bagaimana kita memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari, itu tumbuh dari keluarga. Dari kedua orang tua,” jelas Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).

Apakah orang tuanya cukup mencontohkan karena perilaku seksis ini muncul dari diskriminasi. Apakah orang tuanya yakin sudah memperlakukan anaknya dengan penuh penghargaan, mencintai tanpa syarat, dan berlaku adil?

Mira juga menyebut bahwa sikap seksis tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi terbentuk dari pola interaksi yang dialami anak sejak kecil. Ia menambahkan, tindakan kecil dalam pola asuh yang sering dianggap remeh justru bisa berdampak besar jika dilakukan berulang.

Ketika mereka nggak diperlakukan secara tepat, nggak dihargai. Banyak orang tua yang men-judge, menghakimi, menganggap rendah pencapaian anak.

Menurut Mira, membandingkan anak atau meremehkan usaha mereka tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga berpotensi membentuk cara pandang yang bermasalah saat dewasa. “Membandingkan anak itu udah termasuk kekerasan terhadap anak. Bukan definisi dari saya, dari UU sendiri. Karena itu memang bisa sebegitu menyakitkannya gitu,” lanjutnya.

Contoh Nyata Lebih Penting dari Nasihat

Mira menekankan bahwa membentuk anak laki-laki agar tidak bersikap seksis tidak cukup hanya dengan nasihat verbal. Orang tua harus menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari. “Itu adalah gini, kalau kita mau educate anak itu nggak cukup bilang ‘eh nak lo jangan seksis ya’ tapi kamu memperlakukan anakmu gimana? Bisa terima mereka nggak?” tanya Mira.

Coba dievaluasi lagi gimana orang tua menanamkan nilai-nilai sikap, pola komunikasi dengan anak ketika dari dia kecil gitu. Dari umur 4 tahun, 5 tahun, 6 tahun bahasa apa yang kita sering lontarkan pada si anak. Itu yang tertanam.

Kemunculan template “educate your son” di media sosial seharusnya tidak berhenti pada ungkapan semata, tetapi menjadi refleksi bagi orang tua untuk memperbaiki pola asuh sejak dini. Menurut Mira, cara anak memandang lawan jenis terbentuk dari interaksi sehari-hari, termasuk bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai sejak usia dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *