Key Strategy: Dulu Nomor Satu, Tokopedia Kini Paling Buncit Habis Ditelan TikTok

Dulu Nomor Satu, Tokopedia Kini Paling Buncit Habis Ditelan TikTok

Tengah berkembangnya sektor e-commerce di Asia Tenggara menunjukkan perbedaan signifikan dalam performa perusahaan. Laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works mengungkapkan bahwa Tokopedia kini berada di posisi terbawah dalam persaingan platform utama pada 2025. Meski total nilai pasar e-commerce kawasan mencapai US$157,6 miliar, pertumbuhan ekonomi digital terjadi dengan tingkat yang beragam. Menurut data GMV 2025, Tokopedia hanya mencatat angka US$9 miliar, menjadikannya pemain dengan kontribusi terkecil dibandingkan pesaing lain.

Shopee, TikTok Shop, dan Lazada Dominasi Pasar

Dalam peringkatan terbaru, Shopee tetap menjadi pemimpin dengan GMV mencapai US$83,2 miliar, diikuti TikTok Shop yang mencatat lonjakan signifikan, hingga US$45,6 miliar. Lazada juga berhasil meraih US$18 miliar, menunjukkan strategi berbeda dari pemain lain. TikTok Shop, khususnya, menjadi bintang baru dengan peningkatan GMV lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dikombinasikan dengan Tokopedia, kontribusi TikTok Shop mencapai 65,7% dari Shopee.

Berdasarkan informasi yang diperoleh CNBC Indonesia dari sumber yang mengetahui, total ada sekitar 420 karyawan yang terdampak PHK pada pertengahan Agustus 2025.

Sebelumnya, ByteDance mengakuisisi Tokopedia dari GoTo pada Desember 2023, agar TikTok Shop bisa beroperasi kembali di Indonesia. Akuisisi tersebut memberikan TikTok kontrol atas PT Tokopedia, dengan kepemilikan 75,01% saham, sementara GoTo hanya menyisakan 24,99%. ByteDance juga menanamkan modal senilai US$1,5 miliar atau sekitar Rp 23,38 triliun dalam perusahaan.

Pascaakuisisi, Tokopedia menjadi pengelola platform bersama TikTok Shop. TikTok Shop di Indonesia berada di urutan kedua setelah pasar China dan Amerika Serikat. Beberapa bulan setelah pengambilalihan, ByteDance mengumumkan efisiensi besar-besaran, yang melibatkan pemangkasan tenaga kerja di beberapa divisi seperti teknologi informasi, layanan pelanggan, dan pengelolaan pesanan. Proses ini dilakukan dalam dua tahap, dengan 180 karyawan di-PHK pada Juli dan 240 pada Agustus.

Selain efisiensi, langkah tersebut bertujuan memperkuat integrasi usaha setelah merger, serta menghadapi persaingan ketat di industri e-commerce. Meski sempat beredar kabar bahwa TikTok berencana menutup aplikasi Tokopedia, perusahaan membantah hal itu secara resmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *