Meeting Results: IHSG menguat di tengah pasar masih cermati perkembangan AS-Iran
IHSG Menguat Meski Pasar Tetap Memantau AS-Iran
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan penguatan 24,43 poin atau 0,32 persen, mencapai level 7.645,81 pada Jumat pagi. Di sisi lain, kelompok 45 saham unggulan, atau indeks LQ45, mengalami kenaikan sebesar 1,16 poin atau 0,15 persen, dengan nilai 758,48.
“Dari perspektif analisis teknis, IHSG diperkirakan akan mengalami penurunan terbatas dengan batas bawah antara 7.500 hingga 7.850. Namun, ada peluang penguatan meskipun terbatas,” kata Nico, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam laporan di Jakarta, Jumat.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi fokus perhatian investor. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi telah mencapai titik tertentu dan pihaknya berencana melanjutkan pembicaraan pada akhir pekan. Meski demikian, Trump mengklaim bahwa Iran sudah menyetujui syarat nuklir tanpa bukti konkret.
Di kawasan Eropa, inflasi yang meningkat akibat konflik Timur Tengah berdampak pada kenaikan harga energi global. Hal ini memicu perubahan proyeksi kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB), dari sebelumnya rencana penurunan dua kali pada 2026, kini berpotensi naik jika inflasi belum stabil.
Dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa S&P Global mempertahankan peringkat kredit Indonesia di kategori BBB (investment grade) dengan outlook stabil. Hal ini mencerminkan risiko ketidakmampuan pembayaran yang rendah dan membantu kepercayaan investor global.
Nico menilai keputusan S&P menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia. “Pertahannya peringkat kredit membantu menjaga kredibilitas investor, terutama lembaga keuangan yang membutuhkan rating investment grade,” ujarnya.
Konfirmasi peringkat yang stabil juga berdampak pada kestabilan yield obligasi pemerintah. “Ini memungkinkan biaya pendanaan negara tetap terjaga meski terjadi tekanan di pasar global,” tambah Nico.
Menurut Nico, kondisi ini bisa mendukung aliran modal ke saham dan obligasi, terlebih jika diiringi tren fiskal disiplin dan pertumbuhan ekonomi yang membaik. “Sektor seperti perbankan dan properti bisa terima sentimen positif karena harapan stabilitas biaya dana,” katanya.
Di sisi lain, Nico mengingatkan bahwa rasio pembayaran bunga utang yang masih melebihi 15 persen menjadi risiko jangka menengah. “Jika tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan negara yang berkelanjutan, ruang fiskal pemerintah bisa terbatasi,” jelasnya.
Pada perdagangan Kamis (16/4), bursa Eropa menunjukkan variasi. Euro Stoxx 50 turun 0,04 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,29 persen, DAX Jerman meningkat 0,36 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,14 persen.
Di AS, Wall Street secara konsisten menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,24 persen ke 48.578,72, S&P 500 meningkat 0,26 persen ke 7.041,28, serta Nasdaq Composite mengalami kenaikan 0,36 persen ke 24.102,70.
Bursa saham Asia pada hari itu juga menunjukkan tren yang beragam. Nikkei turun 576,34 poin atau 0,97 persen ke 58.942,00, Shanghai melemah 15,04 poin atau 0,37 persen ke 4.040,50, Hang Seng menurun 254,76 poin atau 0,97 persen ke 26.139,50, Kuala Lumpur mengalami penurunan 1,26 poin atau 0,07 persen ke 1.688,45, dan Strait Times turun 12,75 poin atau 0,25 persen ke level yang belum ditentukan.