Key Discussion: Tak hanya ikan, telur sapu-sapu juga jadi target pembersihan di Jakpus

Tak Hanya Ikan, Telur Sapu-Sapu Juga Jadi Target Pembersihan di Jakpus

Jakarta – Setiap Jumat pagi, Pemerintah Kota Jakarta Pusat (Jakpus) melakukan operasi penangkapan ikan sapu-sapu serta telurnya di aliran sungai wilayah setempat. Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, mengatakan bahwa aktivitas tersebut merupakan bagian dari upaya pengendalian populasi ikan yang menguasai perairan daerah tersebut. “Setiap Jumat pagi, salah satu langkah yang dilakukan adalah menangkap ikan sapu-sapu,” terang Arifin saat diwawancara di Jakarta, Jumat.

Operasi Dilakukan di Delapan Kecamatan

Dalam kesempatan ini, pihaknya menangkap ikan sapu-sapu di delapan kecamatan Jakarta Pusat. Arifin menjelaskan bahwa selain ikan, telur sapu-sapu juga menjadi sasaran utama untuk menghentikan kemungkinan perluasan populasi mereka ke perairan sungai. “Kami tidak hanya menangkap ikan, tetapi telur sapu-sapu juga menjadi fokus utama operasi kita,” ujarnya.

“Kita harus mampu melakukan pengurangan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta, karena sekarang ini sudah sangat menguasai,” tutur Arifin.

Arifin berharap kegiatan ini dapat mengurangi jumlah ikan sapu-sapu, sehingga sungai kembali dihuni oleh spesies lokal lainnya. Ia menambahkan, para pemancing di wilayah Jakpus mulai merasa kesulitan mencari ikan mujair, lele, nila, dan jenis lainnya karena dominasi ikan sapu-sapu yang tahan terhadap kondisi perairan.

Ikan Sapu-Sapu Diprediksi Menyebar di 60 Persen Wilayah Jakarta

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebutkan bahwa berdasarkan hasil evaluasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), lebih dari 60 persen populasi ikan sapu-sapu terdapat di Jakarta dan daerah sekitarnya. Ia menegaskan bahwa keberadaan ikan ini di sungai serta gorong-gorong dianggap berbahaya, karena mereka mengonsumsi telur ikan lokal dan merusak struktur tembok sungai.

“Yang paling berbahaya adalah kemarin dalam rapat, saya dilaporin oleh Kepala KKP bahwa di ikan ini, rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Kalau itu dikonsumsi, akan berbahaya, dan kalau dibiarkan, maka dia akan merusak,” ungkap Arifin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *