Key Strategy: Pramono Bertekad Ubah Jakarta Jadi ‘Pemain Dunia’
Pramono Bertekad Ubah Jakarta Jadi ‘Pemain Dunia’
Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Provinsi DKI Jakarta tahun 2027, Kamis (16/4/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan visi pembangunan kota global. Ia menekankan bahwa transformasi ini memerlukan peningkatan di berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia, infrastruktur, dan ekonomi yang berdaya saing serta berkelanjutan.
Peneguhan Peran Kota Global
Pramono menegaskan bahwa Jakarta tidak lagi sekadar kota lokal, melainkan harus menjadi kota yang berperan di tingkat internasional. “Jakarta sudah waktunya menjadi pemain global,” ujarnya, menyoroti pentingnya menjaga kualitas sebagai pusat kota terbuka.
“Tidak hanya artinya kalau Jakarta hanya menjadi pemain lokal. Jakarta sudah waktunya menjadi pemain global,”
Pramono memberikan contoh keberhasilan yang telah dicapai, seperti pengakuan internasional terhadap infrastruktur yang berada di peringkat 17 terbaik dunia. Kota ini juga dinobatkan sebagai kota teraman kedua se-ASEAN setelah Singapura.
Peningkatan Durasi Kunjungan Wisatawan
Menurut Pramono, tren wisatawan semakin lama menginap di Jakarta terjadi. Masa tinggal rata-rata mencapai 2,8 hingga 3 hari, meningkat dari sebelumnya 1,25 hingga 1,5 hari. Hal ini didukung oleh aksesibilitas transportasi dan penawaran wisata belanja yang semakin menarik.
“Maka ini kemudian harus kita jaga bersama bahwa, sebagai kota global terbuka kita harus membuat orang aman nyaman datang ke Jakarta bahkan ada tren baru orang ke Jakarta ini mereka akan bertahan lebih lama di Jakarta,”
Ia menjelaskan bahwa penurunan nilai tukar Rupiah menciptakan daya tarik wisatawan untuk berbelanja di Indonesia. Dukungan pemerintah melalui insentif pajak yang transparan juga menjadi faktor utama. “Hal ini terbukti ketika kita menyambut Christmas kemarin, dalam waktu kurang dari 10 hari transaksi mencapai Rp 15,25 triliun,” tambah Pramono.
Contoh lain adalah saat perayaan Ramadan dan Idul Fitri 4-30 Maret lalu, transaksi di Jakarta mencapai Rp 67,52 triliun. “Kenapa ini bisa terjadi karena itu tadi, kami memberikan kepercayaan kepada pelaku usaha dan memberikan insentif pajak yang terbuka,” katanya.