New Policy: Cuan Mangga di Dunia Tembus Rp 1.200 Triliun, RI Cuma Jadi Penonton
Cuan Mangga di Dunia Tembus Rp 1.200 Triliun, RI Cuma Jadi Penonton
Dalam beberapa tahun ke depan, industri mangga global diprediksi akan terus berkembang, didorong oleh permintaan yang meningkat dari konsumen. Menurut proyeksi, nilai pasar buah tropis ini akan mencapai sekitar US$ 70,6 miliar atau sekitar Rp 1.212 triliun pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 3,87% dari 2026 hingga 2031. Penjualan global terutama didukung oleh permintaan dari Eropa dan Amerika Utara, serta kapasitas produksi yang kuat di Asia dan Amerika Latin.
Tren Konsumsi Sehat Meningkatkan Permintaan
Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat menjadi faktor penting yang mendorong peningkatan konsumsi mangga. Buah ini kaya akan nutrisi seperti vitamin A, C, serta antioksidan, yang memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Selain dikonsumsi langsung, mangga juga mulai diterapkan dalam berbagai produk olahan, mulai dari jus hingga makanan ringan berbasis alami. Tren seperti clean label dan plant-based semakin memperkuat posisi mangga sebagai bahan baku yang diminati di berbagai sektor industri.
Peta Produksi dan Perdagangan Global
1. Asia Asia menjadi pusat produksi mangga dunia, dengan India memimpin dengan kontribusi sekitar 40% dari total global. Negara ini diproyeksikan menghasilkan 36 juta ton pada 2034. Selain itu, China, Indonesia, Pakistan, dan Thailand juga berperan dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik dan regional. Pemerintah India terus mendorong ekspor, terutama di wilayah Andhra Pradesh, dengan fokus pada varietas seperti Banginapalli.
2. Amerika Latin Kawasan ini memainkan peran kunci dalam perdagangan internasional. Meksiko menjadi eksportir terbesar, didukung oleh akses pasar ke Amerika Serikat. Peru, Brasil, dan Ekuador juga aktif memasok ke Eropa dan Amerika Utara. Data menunjukkan bahwa Peru mencatat ekspor sekitar 289.500 ton pada musim 2024-2025, menegaskan pentingnya ekspor dari wilayah ini.
3. Amerika Utara, Eropa, dan Timur Tengah Konsumsi mangga utama terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Arab Saudi. Ketergantungan pada impor menjadikan perdagangan mangga sangat dinamis, dengan aliran utama dari Asia dan Amerika Latin. Pasar di wilayah ini tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan industri.
Produksi Mangga di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu produsen mangga terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 4,1 juta ton pada 2023. Produktivitas mencapai 13.735 kg per hektar, yang lebih tinggi dibandingkan beberapa negara utama. Luas lahan panen sekitar 298.827 hektar menunjukkan keseimbangan antara skala produksi dan efisiensi budidaya. Namun, produksi melimpah belum mampu memasuki pasar global secara signifikan.
“Produksi mangga nasional stabil selama lima tahun terakhir, tetapi ekspor masih bergantung pada pasar tradisional seperti Singapura dan Malaysia. Potensi ke Jepang, Korea Selatan, atau Eropa sangat besar, terutama karena preferensi mereka terhadap produk berkelanjutan dan berkualitas,”
kata Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal 2025.
Meksiko dan India menjadi contoh yang bisa dijadikan referensi. Untuk menembus pasar internasional, Indonesia perlu membangun strategi distribusi, memperkuat rantai pendingin, serta menciptakan branding yang menonjolkan rasa dan kebanggaan nasional. Dengan langkah ini, negara ini bisa bertransformasi dari produsen menjadi pelaku global yang lebih kompetitif.