Meeting Results: Belum Ada Ajakan Perang, Nuklir Korea Utara Tahu-Tahu “Melesat”
Belum Ada Ajakan Perang, Nuklir Korea Utara Tahu-Tahu “Melesat”
Jakarta – Pemerintah Korea Utara dikabarkan meningkatkan aktivitas dalam pengembangan program senjata nuklirnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran internasional, terutama karena upaya diplomasi global untuk mengendalikan ambisi nuklir negara tersebut tampak stagnan. Dalam laporan yang dikutip dari The Guardian, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa Pyongyang telah mencapai kemajuan signifikan dalam kemampuan produksi senjata nuklir. Pernyataan ini disampaikan selama kunjungannya ke Seoul pada Rabu (18/4/2026).
Menurut Grossi, kegiatan di kompleks nuklir utama Korea Utara di Yongbyon memperlihatkan peningkatan drastis. Pekerjaan pada reaktor 5 megawatt, fasilitas pemrosesan ulang, reaktor air ringan, serta instalasi lainnya terlihat lebih intens. Ia juga mengonfirmasi bahwa Korea Utara diperkirakan telah memilikinya sekitar puluhan hulu ledak nuklir. Beberapa estimasi menyebut jumlah mencapai 50, meskipun sebagian ahli masih mempertanyakan klaim Pyongyang terkait kemampuan mengurusi senjata miniaturis yang dapat dipasang pada rudal balistik jarak jauh.
Sejak uji coba nuklir pertama pada 2006, Korea Utara telah berkembang dalam kemampuan nuklir yang dianggap cukup operasional. Termasuk pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mencapai wilayah daratan Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un sejak 2011, program nuklir ini terus dipercepat meski menghadapi sanksi dari Dewan Keamanan PBB.
Perkembangan Fasilitas Nuklir
Temuan terbaru juga didukung oleh laporan dari lembaga Washington, Center for Strategic and International Studies (CSIS), melalui proyek Beyond Parallel. Berdasarkan citra satelit, Korea Utara dinyatakan telah menyelesaikan pembangunan fasilitas baru di Yongbyon, diduga untuk pengayaan uranium. Fasilitas tersebut hampir siap beroperasi. Selain itu, terdapat indikasi adanya fasilitas serupa di Kangson, dekat Pyongyang, yang belum diungkapkan kepada otoritas nuklir internasional.
Dalam laporan tersebut, peningkatan produksi uranium yang diperkaya diharapkan dapat meningkatkan jumlah senjata nuklir Korea Utara secara signifikan. Temuan ini sejalan dengan penilaian IAEA bulan Juni tahun lalu, yang menyebut negara tersebut sedang membangun fasilitas pengayaan uranium di Yongbyon untuk menghasilkan bahan senjata.
Komunikasi dan Kebijakan Luar Negeri
Sebelumnya, Grossi menegaskan bahwa tidak ada bukti perubahan besar di lokasi uji coba nuklir utama Korea Utara di Punggye-ri sejak Maret lalu. Namun, fasilitas tersebut tetap dianggap siap digunakan kapan saja. Ia menekankan bahwa program nuklir Korea Utara melanggar resolusi PBB secara serius. “Ini adalah pelanggaran yang jelas,” ujarnya.
“Pelanggaran yang jelas,” kata Grossi, seraya menambahkan bahwa IAEA akan terus bersiap memverifikasi program nuklir negara tersebut.
Korea Utara sendiri belum melakukan uji coba nuklir sejak 2017, namun tetap menunjukkan kemajuan dalam teknologi misil dan ekspansi senjata. Pada Agustus lalu, Kim Jong Un menyatakan komitmen untuk “ekspansi nuklir yang pesat.”
Sementara itu, upaya diplomasi untuk mengendalikan ambisi nuklir Pyongyang belum membuahkan hasil. Pertemuan antara Kim dan Presiden AS Donald Trump pada masa jabatan pertama berakhir tanpa kesepakatan. Hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan juga memburuk. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, pernah memperingatkan bahwa Korea Utara kini mampu memproduksi bahan untuk 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun.
“Pada suatu titik, Korea Utara akan mengamankan persenjataan nuklir yang diyakininya dibutuhkan untuk mempertahankan rezimnya, bersama dengan kemampuan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mengancam tidak hanya Amerika Serikat tetapi juga dunia yang lebih luas,” ujar Lee pada Januari lalu. “Dan begitu terjadi kelebihan, itu akan menyebar ke luar negeri, melampaui batas negaranya. Bahaya global pun akan muncul,” imbuhnya.
Korea Utara menolak upaya Seoul untuk membuka kembali dialog lintas perbatasan, menunjukkan bahwa ketegangan di Semenanjung Korea masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.