Facing Challenges: Kondisi Warga Iran, Penuh Ketakutan dan Tekanan Setelah Perang
Kondisi Warga Iran, Penuh Ketakutan dan Tekanan Setelah Perang
Setelah Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat tertentu, keadaan perang di Timur Tengah tampak lebih stabil, tapi ketidakpastian masih menghantui wilayah tersebut. AS menegaskan akan tetap memblokade pelabuhan Iran, sementara Iran mengancam akan kembali menutup jalur vital jika blokade tersebut dilanjutkan. Di tengah situasi yang tidak jelas, warga Iran berusaha mempertahankan rutinitas sehari-hari setelah mengalami serangan udara bertubi-tubi dari AS dan Israel selama beberapa minggu. Namun, ancaman terhadap demonstran di bulan Januari 2026 masih menjadi bayangan ketakutan mereka.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (18/4/2026), para pejabat mengharapkan pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran akan memperpanjang masa gencatan senjata. Meski toko, restoran, dan kantor pemerintah tetap buka, taman kota di Iran ramai dengan keluarga yang berpiknik dan anak muda yang bermain olahraga. Di balik pemandangan damai, ekonomi Iran mengalami keruntuhan yang parah, dan rakyat merasa takut menghadapi tindakan pemerintah yang kian keras.
Pandangan dari Masyarakat
Menurut laporan dari Iran, rakyat tetap memperhatikan dampak perang yang menghancurkan infrastruktur dan meningkatkan risiko pemutusan kerja massal. Seorang pria berusia 37 tahun bernama Fariba, yang terlibat dalam demonstrasi Januari lalu, mengatakan melalui telepon kepada Reuters: “Perang akan berakhir, tapi saat itulah masalah nyata kita dengan sistem mulai muncul. Saya sangat khawatir jika rezim mencapai kesepakatan dengan AS, tekanan pada rakyat biasa akan semakin meningkat.”
“Rakyat belum melupakan kejahatan rezim pada Januari lalu, dan sistem belum melupakan bahwa rakyat tidak menginginkannya. Mereka menahan diri sekarang karena tak ingin terlibat dalam konflik dalam negeri.”
Kondisi yang kritis juga ditegaskan oleh Omid Memarian, analis Iran di think tank independen Dawn, yang menyebutkan: “Rakyat Iran menyadari perang ini tidak akan menggulingkan rezim, tapi akan membuat kehidupan ekonomi mereka jauh lebih sulit. Militer tidak akan meletakkan senjata, dan pertumpahan darah akan terus terjadi.”
Pengaruh Sanksi dan Isolasi
Menurut data resmi, serangan AS-Israel telah menewaskan ribuan orang, termasuk banyak siswa dalam satu hari awal konflik. Korban juga mencakup kerusakan infrastruktur yang menyebabkan peningkatan PHK. Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Selat Hormuz telah dibuka setelah kesepakatan gencatan senjata untuk Lebanon, sementara Trump yakin perjanjian antara AS dan Iran akan segera tercapai.
Di Teheran Utara, warga Iran lainnya mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang kekuatan teokrasi revolusioner. Media asing di Iran beroperasi di bawah pedoman Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, yang mengatur kebebasan pers. Mehtab, seorang karyawan perusahaan swasta, menambahkan bahwa keadaan bisa memburuk dengan dampak perang dan sanksi yang bertahun-tahun melanda negara ini.
Seorang guru privat bernama Sara, 27 tahun, yang tidak menyebutkan lokasi atau nama keluarga, mengungkapkan: “Orang-orang menikmati gencatan senjata untuk saat ini, tapi apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang seharusnya kita lakukan dengan rezim yang terus menguasai kita?”
Aspirasi dan Ancaman
Trump menyatakan niat membantu rakyat Iran setelah ribuan orang tewas dalam penindasan terhadap protes Januari lalu. Namun, meskipun Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu awalnya berharap perang akan menggulingkan ulama yang berkuasa, kekhawatiran terhadap masa depan rakyat Iran tetap menghiasi perbincangan mereka.