Main Agenda: Diakui Orang Eropa, Buah dari RI Ini Bisa Jadi Solusi Krisis
Diakui Orang Eropa, Buah dari RI Ini Bisa Jadi Solusi Krisis
Sukun, yang secara ilmiah disebut Artocarpus altilis, adalah komoditas asli Indonesia yang pernah menarik perhatian bangsa Eropa. Meski Jakarta dikenal karena buah tropis seperti durian dan rambutan, ada satu buah lokal yang justru menjadi incaran global: sukun. Sejak abad ke-17, buah ini menjadi objek rasa ingin tahu di Eropa, dianggap sebagai ‘buah sempurna’ yang bisa memenuhi kebutuhan pangan dengan bergizi tinggi dan mampu mengatasi kesulitan hidup.
Pertemuan Awal dengan Sukun
Sejarah mencatat, sukun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara sejak lama. Buktinya terlihat dari relief Candi Borobudur, yang menunjukkan buah ini sebagai pangan penting dalam masa lampau. Pertama kali dikenal oleh bangsa Eropa, sukun ditemukan oleh penjelajah Inggris William Dampier saat berhenti di Guam tahun 1686. Ia menggambarkan buah ini memiliki keunikan karena tumbuh dari pohon besar tanpa biji.
“Maka, kami menamakannya sebagai breadfruit,” tulis Dampier dalam bukunya A New Voyage Round the World (1697).
Nama ‘breadfruit’ atau buah roti muncul dari sifat teksturnya yang unik. Setelah dipanggang, daging sukun memiliki rasa dan sensasi mirip roti. Dampier juga menganggap buah ini sangat mengenyangkan dan bisa menjadi alternatif dalam masa kelaparan.
Penyebaran ke Dunia
Berkat keunikan ini, sukun mulai diperkenalkan ke Eropa. Pada abad ke-18, penjelajah Inggris James Cook, dibantu ahli botani Joseph Banks, membawa tanaman ini ke berbagai koloni Inggris. Banks meyakini sukun memiliki nilai gizi tinggi dan bisa menjadi sumber pangan murah. Usulan menanam sukun di koloni Inggris disetujui oleh Raja George III, yang memungkinkan penyebaran luas ke Karibia, Afrika, hingga Asia.
Seiring waktu, manfaat sukun yang awalnya hanya berdasarkan pengalaman empiris kini terbukti secara ilmiah. Penelitian modern menunjukkan buah ini kaya vitamin C, potasium, magnesium, serta tinggi serat dan rendah lemak. Selain itu, sukun dinilai sebagai superfood karena pertumbuhannya cepat, memerlukan perawatan minimal, dan bisa beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan.
Harapan sebagai Solusi Global
Kemampuannya bertahan di cuaca ekstrem menjadikannya kandidat kuat untuk menghadapi krisis pangan akibat perubahan iklim. Dari buah lokal Nusantara, sukun kini menjadi komoditas global dan dianggap sebagai salah satu jawaban menghadapi ancaman kelaparan dunia. Potensi ini menjadikannya bukan hanya makanan, tetapi juga simbol ketahanan pangan di masa depan.