Key Discussion: Perwakilan Regional FAO dorong kemitraan dukung petani kecil

Perwakilan Regional FAO Dorong Kerja Sama untuk Dukung Petani Kecil

Jakarta – Dalam upaya meningkatkan akses makanan bagi masyarakat miskin, Perwakilan Regional FAO untuk Asia dan Pasifik, Alue Dohong, menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak. Menurut siaran pers FAO Indonesia, konferensi regional yang berlangsung di Brunei Darussalam ini membuka peluang untuk menyelaraskan respons kebijakan dan investasi jangka panjang. Dohong, yang juga menjabat sebagai Asisten Direktur Jenderal FAO, menyatakan bahwa tantangan krisis pangan dan dampak ketegangan geopolitik memerlukan kerja sama lintas lembaga.

Pertemuan Senior Fokus pada Transformasi Sistem Pangan

“Konferensi ini menjadi ajang untuk mengoordinasikan tindakan yang akan menentukan kemampuan kita mengakhiri kelaparan dan meningkatkan kualitas hidup di Asia dan Pasifik,” ujar Dohong dalam pidatonya. Ia menyoroti bahwa kawasan Asia-Pasifik saat ini berada pada titik kritis, dihadapkan pada berbagai krisis seperti perubahan iklim dan ketegangan internasional. Hal ini menuntut langkah segera untuk mereformasi sistem agripangan agar lebih efisien, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

“Konferensi ini merupakan kesempatan untuk menyelaraskan dan mengoordinasikan respons kebijakan dan investasi jangka panjang yang akan menentukan apakah kita dapat mengakhiri kelaparan dan meningkatkan taraf hidup di Asia dan Pasifik,”

Agenda Konferensi Termasuk Perdagangan dan Pendanaan

Pertemuan Pejabat Senior Sesi ke-38 Konferensi Regional FAO untuk Asia dan Pasifik (APRC38) berlangsung di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, pada 20–24 April 2026. Dalam tiga hari pertama, para pejabat pemerintah dari seluruh kawasan akan membahas berbagai isu utama dan menetapkan kerangka teknis serta kebijakan. Agenda utama mencakup peningkatan akses makanan bergizi dan terjangkau, percepatan produksi pertanian berkelanjutan, serta pengembangan pasar.

Menurut FAO, Asia dan Pasifik menyumbang 42 persen atau sekitar 285 juta orang dari populasi global yang mengalami kekurangan gizi, meski beberapa negara telah mencatat penurunan angka kelaparan. Kawasan ini menghadapi tiga tantangan utama gizi: defisit gizi, defisit mikronutrien, dan peningkatan obesitas. Dohong menambahkan bahwa kebijakan harus fokus pada peningkatan efisiensi sistem pangan dan penguatan kerja sama Selatan-Selatan serta Triangular.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *