Special Plan: Harga Emas Ambles 2% Lebih, Jatuh ke Level Terlemah 2 Minggu

Harga Emas Jatuh ke Level Terendah Dua Minggu, Beri Tahu Turun 2,24%

Jakarta — Emas kembali mengalami penurunan signifikan, terpicu oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan dinamika konflik geopolitik. Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa harga emas ditutup di angka US$ 4711,67 per troy ons pada perdagangan Selasa (21/4/2026), meluncurkan penurunan sebesar 2,24%. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan emas sebesar 2,4% dalam dua hari terakhir. Penutupan harga hari ini menjadi level terendah sejak 7 April 2026, atau dua minggu terakhir.

Faktor Pendorong Penurunan Harga Emas

Kecenderungan penurunan ini melanjutkan tekanan pada harga emas yang turun 2,4% dalam dua hari terakhir. Penguatan dolar AS berdampak langsung pada kelembutan emas, karena logam mulia dihitung dalam mata uang tersebut. Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga menjadi faktor penurunan harga. Bob Haberkorn, dari Reuters, menjelaskan bahwa peningkatan imbal hasil dan penguatan dolar menekan emas, ditambah berita utama terkait situasi Iran yang memperkuat kenaikan harga energi.

“Imbal hasil serta dolar yang lebih kuat menjadi tekanan terhadap emas. Sementara itu, berita utama dan sinyal bermacam-macam terkait Iran mendorong harga energi, yang memperparah penurunan logam mulia,” ujar Haberkorn.

Dalam suasana yang menegangkan, kecemasan di Wall Street meningkat menjelang penutupan pasar. Laporan menyebutkan perjalanan Wakil Presiden JD Vance ke negosiasi dengan Iran ditunda karena kurangnya komitmen dari Teheran. Hal ini disampaikan oleh The New York Times dan Axios, yang mengutip sumber dari pemerintah AS. Tak lama setelah pasar ditutup, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata akan diperpanjang hingga Iran mengajukan proposal.

Perubahan Strategi Bank Sentral AS

Pelaku pasar juga mengawasi sidang Komite Perbankan Senat AS yang melibatkan Kevin Warsh, kandidat calon ketua Federal Reserve (The Fed). Warsh menekankan bahwa dirinya tidak pernah berjanji kepada Trump untuk memangkas suku bunga, meski Trump sebelumnya sering menyatakan harapan agar Warsh menurunkan bunga. Pernyataan ini menjadi sorotan karena pelaku pasar mengharapkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

“Trader akan memperhatikan setiap komentar Warsh. Dengan sidang ini, volatilitas diperkirakan akan sangat tinggi,” tambah Haberkorn.

Di sisi lain, harga perak juga mengalami penurunan, menurut Refinitiv. Perak ditutup di US$ 77,14 per troy ons pada perdagangan Selasa (21/4/2026), mengalami penurunan 4,01%. Penurunan ini memperpanjang pelemahan sebesar 5,1% dalam dua hari terakhir. Namun, harga perak sedikit rebound pada hari ini, naik 0,57% menjadi US$ 77,14 per troy ons pada Rabu (22/4/2026) pukul 06.34 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *