Key Discussion: FSAI akan digelar lagi, tampilkan tujuh film Indonesia dan Australia
FSAI Kembali Digelar, Tampilkan Tujuh Film Indonesia dan Australia
Jakarta – Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) akan diheladkan kembali untuk kesembilan belas kali pada periode 8 hingga 23 Mei 2026 di berbagai kota Indonesia. Acara ini menyajikan tujuh film unggulan guna memperkuat pertukaran budaya serta kolaborasi di bidang kreatif antara dua negara. Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/4), Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menjelaskan bahwa FSAI akan menampilkan lima film dari Australia serta dua film produksi lokal.
“Tujuan utamanya adalah mempererat hubungan antara Australia dan Indonesia di tingkat ‘people-to-people’. Dengan metode saling menonton karya film dari kedua negara,” ujarnya.
Kolaborasi ini juga akan dilanjutkan melalui berbagai inisiatif, seperti festival sinema dan program Australia Awards yang ditujukan untuk pelaku industri kreatif. Selain itu, kerja sama bisa berlanjut melalui kursus singkat di Australia. Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, menambahkan bahwa FSAI berkontribusi signifikan dalam pengembangan bakat perfilman.
“Festival tersebut tidak hanya mendorong munculnya talenta baru, tetapi juga memperkuat industri film nasional,” katanya.
Menurut Irene, hal ini terlihat dari peningkatan dominasi film Indonesia di pasar dalam negeri. Dari sisi ekonomi, acara sinema dinilai memiliki dampak ganda, khususnya dalam mendorong kolaborasi internasional. Ia berharap sinergi ini bisa membuka peluang ekspor film Indonesia, termasuk ke pasar Australia.
FSAI juga menyediakan sesi masterclass dan diskusi yang melibatkan sutradara, akademisi, serta alumni dari Australia. Program ini terbuka untuk mahasiswa film, kreator muda, dan masyarakat umum. Selama 2025, jumlah penonton FSAI mencapai sekitar 6.500 orang. Antusiasme yang tinggi diharapkan terus meningkat seiring perluasan cakupan festival dan keragaman genre yang ditampilkan, seperti horor, animasi, dan dokumenter.