Pantas Amran Bilang RI Aman Saat El Nino – Stok Beras Cukup 15 Bulan
Pantas Amran Bilang RI Aman Saat El Nino, Stok Beras Cukup 15 Bulan
Jakarta, Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman mengungkapkan keyakinan bahwa ketersediaan beras di Indonesia tetap stabil meski negara menghadapi gelombang El Nino yang disebut sebagai “Godzilla”. Ia menyatakan, stok dan produksi beras dalam negeri saat ini cukup kuat untuk mengatasi dampak musim kemarau berkepanjangan hingga enam bulan. “Kita akan menghadapi El Nino Godzilla, yang berlangsung selama 6 bulan,” jelasnya kepada wartawan saat mengunjungi gudang beras di JDP Karawang 1 Logistic Park, Jawa Barat, pada Kamis (23/4/2026).
Stok Beras Dijelaskan sebagai Daya Tahan Terbesar
Menurut Amran, cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 5 juta ton, yang dinilai sebagai rekor tertinggi sepanjang masa. Selain itu, stok di sektor Horeka, pedagang, dan rumah tangga mencapai 12,5 juta ton, sementara potensi panen (standing crop) sebesar 11 juta ton. “CBP kita 5 juta ton, terbesar sepanjang sejarah. Selain itu, stok di Horeka, pedagang, dan rumah tangga ada 12,5 juta ton, dan standing crop 11 juta ton. Totalnya sekitar 28 juta ton, yang setara dengan kebutuhan 11 bulan,” ujarnya.
“Durasi kekeringan 6 bulan, sedangkan stok mencakup 11 bulan. Artinya, aman,” tambah Amran.
Produksi Tetap Berjalan Meski Kekeringan
Amaran menegaskan bahwa produksi beras tidak berhenti selama musim kemarau berkat dukungan infrastruktur pertanian. “Pada masa musim kering, kita masih mampu memproduksi 2 juta ton per bulan karena ada irigasi dan pompanisasi yang berjalan baik,” katanya. Ia menambahkan, produksi tambahan selama periode tersebut bisa mencapai 12 juta ton, yang cukup untuk menopang kebutuhan empat hingga lima bulan. Dengan kombinasi stok dan produksi, ia menegaskan bahwa ketahanan beras Indonesia terjaga hingga sekitar 15 bulan ke depan.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi Indonesia akan mengalami fenomena El Nino dengan intensitas tinggi, atau disebut “Godzilla”, pada tahun ini. Fenomena ini berpotensi memperpanjang dan memperkuat musim kemarau, terutama di wilayah barat dan selatan. El Nino, yang merupakan pemanasan permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator, berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dalam fase kuat, El Nino dianggap sebagai anomali iklim signifikan yang memengaruhi kondisi iklim nasional, menurut Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagram resmi @brin_indonesia pada Selasa (21/4/2026).