Solving Problems: Obsesi dalam balutan pesta kerasukan di film “Para Perasuk”
Obsesi dalam Balutan Pesta Kerasukan di Film “Para Perasuk”
Di industri perfilman Indonesia, film “Para Perasuk” yang disutradarai Wregas Bhanuteja menawarkan sudut pandang baru. Cerita ini menggambarkan fenomena kerasukan sebagai pengalaman bersama masyarakat, bukan sekadar kejadian menakutkan. Melalui ritual Pesta Sambetan, Wregas menjelajahi bagaimana kerasukan roh hewan bisa menjadi bentuk hiburan yang mendekatkan orang-orang dalam sebuah komunitas desa.
Pesta Sambetan: Ritual yang Membawa Kejutan
Pesta Sambetan, yang menjadi inti dari film ini, dianggap sebagai tradisi turun-temurun di Desa Latas. Ritual ini melibatkan para Perasuk—individu yang terhubung dengan roh-roh hewan—yang mengiringi dengan musik dan alunan gerakan. Peserta pesta, disebut Pelamun, merasakan sensasi euforia, seolah-olah terlempar ke dunia yang lebih menyenangkan. Seorang pelamun mencatat, “Silakan gabung di pesta sambetan. Bareng-bareng kita lupain bentar ya cicilan, masalah keluarga lepasin semua di alam sambet,” yang menggambarkan kegembiraan selama acara tersebut.
Konflik di Balik Euforia
Tapi di balik kegembiraan, ada ancaman yang menghantui Desa Latas. Mesin alat berat dari perusahaan Wanaria siap menggusur sumber air keramat, tempat para Perasuk mencari koneksi dengan roh-roh hewan. Bayu (Angga Yunanda), pemuda yang ingin memperoleh keuntungan dari tradisi ini, menjadi tokoh utama yang bertekad menjadi Perasuk Utama. Tujuannya bukan hanya mendapatkan penghasilan tetapi juga menghindari kehidupan terbatas di kota.
Perjalanan yang Terus Berubah
Berlatih keras untuk memimpin pesta sambetan, Bayu menghadapi tekanan dari persaingan dengan Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan). Tantangan juga datang dari hubungannya dengan ayah (Indra Birowo) dan perasaannya terhadap Laksmi (Maudy Ayunda), seorang pelamun yang dirasuki roh hewan. Pada akhirnya, keinginan Bayu memperoleh roh-roh tersebut berubah menjadi obsesi, yang menjauhkan dirinya dari dunia nyata.
Pesan dari Bayu
Dalam film ini, Wregas Bhanuteja memposisikan Bayu sebagai cerminan anak muda yang berusaha mengubah nasib. Ia memilih jalan menjadi Perasuk karena merasa tak mungkin berada di kota lagi. Namun, ambisinya perlahan membuatnya kehilangan keseimbangan. Bayu’s journey mengingatkan penonton bahwa obsesi akan mimpi bisa membuat seseorang lupa pada kehidupan sehari-hari.
Daya Tarik Akting
Para pemeran dalam “Para Perasuk” menampilkan kualitas akting yang memperkuat narasi. Angga Yunanda bermain dengan komitmen tinggi, menggambarkan transformasi dari sosok pemuda tulus menjadi individu yang terpikat pada kekuasaan roh. Ia juga memainkan alat musik slompret dan menampilkan gerakan yang memperlihatkan keadaan kerasukan, seperti merayap di tanah.
“Melalui Bayu, Wregas membawa pesan bahwa obsesi terhadap mimpi jangan sampai membuat seseorang lupa akan dunia dan orang-orang di sekitarnya.”
Cerita yang Mengusik
Cerita ini juga mengusik ketika Bayu semakin terjebak dalam konflik batin. Ia terus berusaha mendapatkan persetujuan dari roh-roh hewan, bahkan melupakan kehidupan sekitarnya. Pesta sambetan, yang awalnya sebagai sarana kebahagiaan, justru menjadi pembawa perubahan yang tidak terduga. Dalam prosesnya, Bayu merasakan kepuasan dari 20 roh hewan yang menghadirkan pengalaman kerasukan berbeda—seperti sensasi pijat dari roh bulus atau serangan fisik yang seolah-olah dialami pelamun.
“Ketertarikannya pada dunia film sejak duduk di bangku sekolah berubah perlahan menjadi obsesi, yang membuatnya menjauh dari orang-orang terdekat.”
Dengan elemen-elemen tersebut, film “Para Perasuk” menawarkan cerita yang menggabungkan tradisi, keinginan, dan konflik internal, mengajak penonton merenungkan makna kehidupan di tengah hiburan yang mempesona.