Ketekunan Nenek Pedagang Cilok – 65 Tahun Menabung untuk Naik Haji
Ketekunan Nenek Pedagang Cilok, 65 Tahun Menabung untuk Naik Haji
Mislicha Kasib (85), seorang lansia penjual cilok asal Bugul Kidul, Pasuruan, Jawa Timur, akhirnya meraih impian menjadi calon jemaah haji tahun ini. Dengan usia yang tak lagi muda, ia tetap berjuang keras mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci. Perjalanan ini berbuah dari kesabaran selama 65 tahun mengais penghasilan kecil dengan berjualan cilok.
Kesibukan Sejak Subuh
Setiap pagi, Mislicha memulai hari dengan mengolah adonan cilok dan bumbu kacang di dapur. Ia bangun sejak pukul 02.00 WIB, lalu bekerja hingga 08.00 WIB untuk menyiapkan dagangan. “Ciloknya bikin sendiri, dari subuh sudah di dapur jam 02.00. Jualan di SMP 5 Jalan Trunojoyo setiap hari, mulai pukul 08.00,” katanya, Jumat (24/3).
“Usia saya 85, ciloknya bikin sendiri. Bikin dari pagi, subuh sudah di dapur jam 02.00. Jualan cilok di SMP 5 Jalan Trunojoyo setiap hari. Mulai [berjualan] jam 08.00,” kata Mislicha.
Meski usianya sudah cukup tua, ia tetap berjalan kaki hingga satu kilometer ke tempat dagang. Saat lelah, jamu tradisional menjadi sumber tenaga. “Kalau pegel-pegel [dorong gerobak], minum jamu untuk pulih,” tambahnya. Hasil penjualan sekitar Rp50 ribu per hari, tergantung ramai atau tidak. Namun, dari jumlah itu, ia selalu menyisihkan Rp10-15 ribu untuk tabungan.
Sumbangan Arisan dan Kegigihan
Dalam usaha mengumpulkan dana, Mislicha juga memanfaatkan arisan. Ia mengaku, penghasilan dari jualan cilok sendiri tidak cukup. “Nabung sedikit-sedikit, arisan seminggu Rp80 ribu. Kalau nggak, tabungan nggak bisa karena pengeluarannya banyak,” ujarnya.
Selama 65 tahun berdagang, Mislicha harus berjuang sendirian setelah suaminya meninggalkan rumah 12 tahun silam. Ia mengasuh delapan anak dengan pendapatan terbatas. Kini, setelah menunggu sembilan tahun, ia mendaftar untuk kursi haji pada 2017 dan akhirnya terwujud.
“Sedikit-sedikit nabung, arisan seminggu Rp80 ribu. Kalau nggak, nabung nggak bisa karena pengeluarannya banyak. Sudah 65 tahun jualan cilok, nabung dikit-dikit Rp10-15 ribu,” tutur Mislicha.
Doa Sederhana ke Tanah Suci
Saat ini, Mislicha hanya membawa satu harapan: kesehatan bagi dirinya dan anak-anak. Dari delapan buah hatinya, dua telah melaksanakan ibadah haji sebelumnya. Ia ingin menyusul mereka dengan doa sederhana. “Senang perasaannya. Menunggu sembilan tahun,” katanya.
Mariatul Qibtiyah (35), putri bungsunya, ikut menemani perjalanan ke Tanah Suci. Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh pabrik, tetapi memutuskan berjualan cilok seperti ibunya demi menabung. “Ibu daftar 2017, saya menyusul 2020. Kepikiran buat ndampingi emak. Nabung di bank kadang Rp100-200 ribu per bulan. Kalau sisa, beli tepung dan bawang, lalu taruh di celengan,” kata Mariatul.
Dengan usaha bersama, harapan untuk menunaikan ibadah haji pun tercapai. Kisah Mislicha menunjukkan bahwa keinginan ke Tanah Suci bisa terwujud melalui ketekunan, bukan hanya dari penghasilan besar.