Key Strategy: KTI perketat regulasi petinju pro guna dorong ‘zero accident’ di ring

KTI Perketat Regulasi Petinju Profesional untuk Dorong ‘Zero Accident’ di Ring

Jakarta – Komisi Tinju Indonesia (KTI) meluncurkan pengaturan lebih ketat untuk para petinju profesional yang akan bertanding, dengan tujuan mengurangi potensi cedera berat hingga kejadian fatal dalam tinju. Sekretaris Jenderal KTI, Joshua Hamilton, mengungkapkan bahwa kebijakan ini mulai diberlakukan pada Januari 2026, meliputi wajibnya tes darah serta penerapan sistem catatan pertandingan secara digital melalui BoxRec, platform global tinju profesional.

“Mulai 2026, semua peraturan kita diperketat. Kita ingin meminimalisir risiko, bahkan menuju zero accident, tidak ada lagi nyawa yang melayang di ring,” kata Joshua kepada pewarta di Jakarta, Jumat.

Menurut Joshua, setiap petinju harus menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk tes darah, untuk memastikan kondisi fisik atlet memenuhi standar sebelum bertanding. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya cedera serius akibat kelelahan atau kondisi tidak optimal. Selain itu, seluruh data pertandingan petinju Indonesia akan terintegrasi ke dalam BoxRec, sistem global yang mencatat riwayat pertarungan atlet.

Dengan integrasi ini, frekuensi bertanding dapat diawasi secara lebih ketat, termasuk pengaturan jeda antarpertandingan yang disarankan antara satu hingga satu setengah bulan. Joshua menambahkan bahwa sistem tersebut mencegah petinju mengikuti laga berulang dalam waktu singkat di berbagai organisasi tinju. “Jika seorang petinju baru bertanding, kemudian dua minggu kemudian ingin naik ring lagi di badan lain, sistem akan menolaknya. Pertandingan tidak akan resmi tercatat,” ujarnya.

Penerapan sistem digital BoxRec menggantikan metode pencatatan manual yang sebelumnya dikenal sebagai “buku hitam”. Metode lama ini dianggap kurang efektif karena tidak terintegrasi secara real-time. “Dulu manual, sekarang sudah online. Kita bisa memantau pertandingan di berbagai belahan dunia, mulai dari Asia hingga Eropa,” tambahnya.

Pengawasan lebih ketat ini diusulkan sebagai respons atas insiden tragis di tinju, seperti kematian petinju Hero Tito pada Maret 2022. Saat itu, Hero tercatat mengikuti beberapa pertarungan dalam rentang waktu singkat, 2021 hingga awal 2022, yang memicu dugaan kelelahan fisik sebagai penyebab utama. KTI juga mengkritik maraknya promotor baru, baik dari kalangan amatir hingga selebritas, yang meningkatkan frekuensi laga namun belum didukung sistem pengawasan memadai.

Karena itu, penerapan regulasi baru ini diharapkan menjadi standar bersama bagi seluruh pemangku kepentingan tinju nasional. “Kita ingin olahraga ini berkembang, tapi tetap aman, lebih bersih, dan terkontrol. Risikonya bisa ditekan semaksimal mungkin,” tutur Joshua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *