Solving Problems: Geger! Bos Pentagon Kutip “Ayat Palsu” Alkitab, Ternyata Dialog Film

Kontroversi Menteri Perang AS: Kutipan Alkitab Palsu dan Monolog Film

Kontroversi menghiasi publik saat Menteri Perang AS, Pete Hegseth, memimpin doa dalam acara di Pentagon. Doa yang disampaikannya dikenal sebagai “CSAR 25:17,” dianggap menyerupai dialog dari film Pulp Fiction oleh Quentin Tarantino. Dalam konteks misi penyelamatan pilot militer AS yang terjatuh di Iran, Hegseth menyebut kutipan itu berasal dari kitab suci, khususnya ayat Yehezkiel 25:17.

Monolog Film vs. Ayat Alkitab

Dalam doanya, Hegseth mengucapkan kalimat panjang seperti “jalan penuh ketidakadilan dan amarah besar,” yang secara struktur hampir identik dengan monolog ikonik Samuel L. Jackson di film Pulp Fiction (1994). Namun, ayat Yehezkiel 25:17 dalam Alkitab jauh lebih singkat dan tidak memiliki narasi yang serupa. Perbedaan ini langsung memicu kritik di media sosial, dengan banyak pengguna menyoroti kesalahan Hegseth dalam mengaitkan dialog film dengan teks suci.

“Doa itu diucapkan beberapa jam sebelum anggota DPR Partai Demokrat mengajukan pasal pemakzulan terhadap Hegseth,” tulis The Guardian. Hal ini memicu pertanyaan apakah dirinya menyadari sumber kutipannya sebenarnya berasal dari film, bukan Alkitab.

Kontroversi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama antara AS dan Iran. Doa tersebut disampaikan dalam konteks dukungan terhadap operasi militer, termasuk misi penyelamatan pilot. Kritik muncul terkait penggunaan simbol keagamaan dalam konteks perang, yang dianggap memperkuat narasi politik militer.

Klaim dan Konteks

Hegseth, anggota Persekutuan Gereja-Gereja Injili Reformasi, mengklaim bahwa ayat itu diberikan kepadanya oleh seorang pilot Angkatan Udara AS yang terlibat dalam serangan terhadap Iran. Meski demikian, ia tidak mengakui bahwa mayoritas teks doa berasal dari dialog film, bukan dari kitab suci. Menurut laporan Al-Jazeera, insiden ini disebut “memalukan” oleh beberapa komentar, karena inkonsistensi antara retorika religius dan sumber yang digunakan.

Selain itu, kasus ini menambah daftar polemik dalam pemerintahan Donald Trump, di mana agama, politik, dan militer sering terkait dalam isu publik. Pegiat media sosial juga mempertanyakan apakah Hegseth sengaja memanipulasi kutipan untuk mendukung kebijakan militer atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *