Kemendag Respons soal Minyakita Kosong Berbulan-bulan di Pasaran
Kemendag Tanggapi Kelangkaan Minyakita di Pasar
Kelangkaan minyak goreng subsidi Minyakita yang terjadi di sejumlah pasar rakyat telah memicu respons dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, mengakui adanya gangguan dalam distribusi namun menegaskan bahwa upaya pemasokan sedang dioptimalkan. “Kementerian Perdagangan memahami dinamika pasokan Minyakita di sejumlah pasar rakyat selama beberapa bulan terakhir,” terang Iqbal kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/4).
Orientasi Distribusi ke BUMN Pangan
Menurutnya, saat ini penyaluran Minyakita lebih ditekankan melalui jalur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pangan, seperti Perum Bulog dan ID Food. “Saat ini, penyaluran Minyakita ke pedagang pasar rakyat dioptimalkan melalui jalur distribusi BUMN, yaitu Perum Bulog dan/atau BUMN Pangan,” imbuhnya. Iqbal juga menyebutkan bahwa pemerintah telah meningkatkan proporsi penyaluran kewajiban pasar dalam negeri (DMO) kepada BUMN Pangan. “Di sisi lain, pemerintah telah meningkatkan proporsi penyaluran DMO ke Perum Bulog dan/atau BUMN minimal 35 persen,” tambahnya. Realisasi distribusi bahkan sudah melebihi target minimal tersebut.
Kenaikan Harga Minyak Goreng Alternatif
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga rata-rata Minyakita mencapai Rp15.961 per liter, melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter. Di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, beberapa pedagang mengatakan stok Minyakita telah habis selama sekitar tiga bulan. Kondisi serupa juga terjadi di pasar-pasar lain, bahkan sejak awal tahun.
“Kemendag terus berkoordinasi dengan pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk memastikan distribusi berjalan lancar,” kata Iqbal.
Kelangkaan Minyakita membuat para pedagang beralih ke minyak goreng berbeda dengan harga lebih tinggi. Minyak goreng kemasan premium yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu per liter kini meningkat menjadi Rp22 ribu hingga Rp23 ribu. Sementara itu, minyak curah juga naik dari Rp18 ribu menjadi sekitar Rp20 ribu per kilogram. Beberapa pedagang menyebutkan bahwa pasokan dari distributor terhenti, hingga terpaksa membeli produk lain untuk memenuhi kebutuhan.