Key Discussion: Hiroshi Mikitani, Raja E-Commerce Jepang Berharta Rp66,84 T

Hiroshi Mikitani, Raja E-Commerce Jepang Berharta Rp66,84 T

Seorang tokoh bisnis Jepang, Hiroshi Mikitani, tercatat sebagai salah satu pengusaha terkaya di negeri itu. Menurut data Forbes, kekayaannya mencapai US$3,9 miliar, setara Rp66,84 triliun dengan asumsi kurs Rp17.140 per dolar AS. Keberhasilan ini menempatkan Mikitani di peringkat ke-12 orang terkaya Jepang pada 2025 dan ke-1.108 konglomerat terkaya dunia pada 2026.

Latar Belakang Hiroshi Mikitani

Hiroshi Mikitani lahir di Kobe, Prefektur Hyogo, pada 11 Maret 1965. Ia dibesarkan dalam keluarga yang berada dan berpendidikan tinggi. Ayahnya, Ryoichi Mikitani, adalah dosen ekonom yang pernah mengajar di Universitas Yale, sementara ibunya, Setsuko Mikitani, berasal dari keluarga bangsawan dan bekerja di sektor perdagangan.

Mikutani menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah sebelum mengambil jurusan perdagangan di Hitotsubashi University. Ia lulus pada 1988 dan memulai karir di Industrial Bank of Jepang (IBJ). Selama 1991–1993, Mikitani melanjutkan studi di Harvard Business School, menempuh waktu tiga tahun.

Pendirian Rakuten

Pada 1996, Mikitani mendirikan Crimson Group, perusahaan konsultan yang menjadi fondasi awalnya. Setelah gempa menghancurkan kota kelahirannya, Kobe, pada 1995, ia berkomitmen untuk membangun ekonomi daerah tersebut. Ide bisnis yang menarik perhatiannya adalah konsep pasar online, yang ia lihat seiring langkah serupa dari Amazon dan Netscape di AS.

Dalam tahun 1997, Mikitani bersama dua rekan pendiri menggagas MDM Inc, perusahaan e-commerce yang nantinya berubah nama menjadi Rakuten pada 1999. Awalnya, platform ini hanya memiliki 13 toko dan 6 karyawan. Tahun 2000 menjadi momen penting saat Rakuten melantai di bursa JASDAQ.

Pertumbuhan dan Strategi Rakuten

Dalam pengembangannya, Mikitani menggabungkan etos kerja Jepang dengan budaya inovasi teknologi dari Silicon Valley. Ia juga menerapkan program ‘englishnization’ yang memaksa karyawan menguasai bahasa Inggris, langkah berani mengingat Jepang dikenal konservatif. Strategi ini mendukung ambisi perusahaan untuk beroperasi secara global.

“Saya telah belajar bahwa tidak masalah seberapa besar perusahaan tempat Anda bekerja—yang penting adalah seberapa banyak nilai yang Anda ciptakan sendiri,” tulis Mikitani dalam artikel Harvard Business Review (HBR) tahun 2013.

Pada 2010, Rakuten meluncurkan bisnis layanan seluler pertamanya. Tahun 2021 menjadi momen penting lainnya ketika Mikitani menjual saham senilai US$2,2 miliar ke Japan Post Holdings, Tencent China, dan Walmart AS.

“Investasi baru di Rakuten ini menunjukkan ekspektasi tinggi terhadap pertumbuhan dan dampak ekosistem Rakuten dengan layanan seluler sebagai intinya, serta potensi besar untuk kolaborasi lebih lanjut,” kata Mikitani dalam wawancara dengan Forbes tahun 2021.

Rakuten tetap menjadi perusahaan e-commerce terbesar Jepang, meski neraca keuangan perusahaan negatif selama tujuh tahun terakhir. Dilansir Forbes, total kerugian yang tercatat mencapai angka tertentu, tetapi keberlanjutan bisnisnya terus dijaga melalui strategi yang adaptif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *