Special Plan: Harga Plastik Kian Mencekik, Ancaman PHK Intai Pekerja
Harga Plastik Meningkat, Risiko PHK Mengancam
Perang di Timur Tengah mulai berdampak signifikan pada harga plastik, menyebabkan kesulitan bagi para pengusaha. Dalam situasi ini, ada kemungkinan terjadi pengurangan tenaga kerja, terutama jika kenaikan biaya plastik tidak segera berkurang. Kondisi tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/3).
Sektor Terdampak: Bisnis Kemasan dan Logistik
Menurut Shinta, sektor yang paling terkena adalah usaha yang memerlukan bahan kemasan, seperti industri makanan dan minuman, Fast-Moving Consumer Goods (FMCG), farmasi, logistik, serta ritel. Kenaikan harga bahan plastik, yang terkadang melonjak lebih dari 100 persen, dinilai melebihi fluktuasi biasa. “Komponen plastik bisa mencapai 20-40 persen dari biaya produksi, bahkan hingga 50-80 persen pada produk tertentu,” blokquote Shinta. Lonjakan ini langsung mempengaruhi biaya produksi secara keseluruhan.
Di tengah tekanan harga, pelaku usaha dihadapkan pada tantangan berat. Mereka harus menjaga harga jual agar tetap terjangkau, namun biaya produksi terus meningkat. Bagi usaha kecil dan menengah (UMKM) serta industri dengan margin keuntungan sempit, tekanan ini mulai merusak profitabilitas. Jika terus berlanjut, keberlanjutan usaha bisa terganggu, serta risiko PHK menjadi nyata.
Langkah Penyesuaian dan Solusi
Shinta menyarankan langkah penyesuaian awal, seperti efisiensi operasional, pengurangan jam kerja, dan penundaan ekspansi. Namun, jika tekanan biaya berlanjut, pelaku usaha mungkin terpaksa memangkas karyawan, khususnya di sektor padat karya yang bergantung pada plastik. “Dukungan fiskal dan kebijakan adaptif sangat penting, terutama bagi industri yang terdampak global,” blokquote Shinta.
Untuk menjaga stabilitas, Shinta menyarankan pemerintah mengacu pada pengalaman Thailand. Di sana, pemerintah lokal mengontrol kenaikan harga plastik agar tidak membebani konsumen. Selain itu, pengawasan pada rantai pasok dan insentif bagi penggunaan bahan daur ulang perlu diperkuat. Kebijakan ekonomi sirkular, seperti penerapan sistem closed-loop, dinilai mampu mengurangi ketergantungan impor dan tekanan pada pasokan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso berharap harga plastik bisa turun di bulan April. Hal ini terjadi karena pemerintah mencari sumber impor alternatif, seperti nafta dari India, Amerika Serikat, dan Afrika, seiring gangguan pasokan dari Timur Tengah. “Dengan menambahkan sumber bahan baku, kita berharap tekanan harga bisa dikurangi,” katanya.