Key Issue: Rusia Keruk Untung Rp325 T dari Jualan Minyak Imbas Perang AS-Iran
Rusia Keruk Untung Rp325 T dari Jualan Minyak Imbas Perang AS-Iran
Peningkatan Ekspor Minyak dan Bahan Bakar Rusia
Rusia mengalami peningkatan pendapatan signifikan akibat perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Ekspor minyak dan bahan bakar negara tersebut melonjak hingga US$19 miliar, setara Rp325,35 triliun (asumsi kurs Rp17.123 per dolar AS) pada Maret 2026. Data ini diumumkan oleh Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan terbarunya.
Lonjakan Pendapatan dan Volume Ekspor
Menurut Reuters, pendapatan ekspor minyak mentah dan produk olahan Rusia hampir dua kali lipat dibandingkan Februari tahun yang sama, yaitu dari US$9,75 miliar menjadi US$19 miliar. Lonjakan tersebut tidak hanya disebabkan oleh harga global, tetapi juga oleh peningkatan volume ekspor. Produksi minyak Rusia meningkat menjadi 8,96 juta barel per hari, naik dari 8,67 juta barel per hari pada bulan sebelumnya.
Tantangan dalam Peningkatan Produksi Minyak
IEA memperingatkan bahwa Rusia mungkin menghadapi hambatan dalam meningkatkan produksi minyak lebih lanjut. Kerusakan infrastruktur energi dan pelabuhan akibat serangan drone dari Ukraina menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, aliran minyak melalui pipa Druzhba ke Hungaria dan Slovakia masih terhenti sejak serangan pada akhir Januari.
Meski pendapatan dari sektor energi menjadi komponen utama dalam anggaran Rusia, peningkatan tersebut dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga global dibandingkan peningkatan kapasitas produksi yang signifikan.