Important Visit: Katanya Ayah Lebih ‘Nggak Tega’ ke Anak, Kok Bisa?
Katanya Ayah Lebih ‘Nggak Tega’ ke Anak, Kok Bisa?
Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan dalam cara orang tua mengasuh anak sering terasa jelas. Ibu sering dianggap lebih keras, terkadang penuh keinginan, sedangkan ayah cenderung lebih santai dan mudah tergoyahkan. Contohnya, saat ibu membatasi jajan atau aktivitas, ayah mungkin justru mengizinkan. Jika anak menangis, ayah lebih cenderung memberi cobaan atau mengurangi ketatnya aturan dibandingkan menegaskan perintah. Fenomena ini kerap dianggap lumrah, meski secara psikologis, kelembutan tersebut bisa muncul baik pada ibu maupun ayah.
Indulgent Parenting: Kecenderungan Memanjakan Anak
Studi dalam Journal of Happiness Studies menjelaskan bahwa pola asuh yang lebih lembut biasanya terkait dengan konsep indulgent parenting. Pola ini menekankan kebahagiaan anak secara langsung, di mana orang tua lebih mementingkan kepuasan emosional jangka pendek daripada mengatur perilaku secara konsisten. Hal ini membuat ayah, secara umum, terlihat lebih ‘nggak tega’ ketika anak mengalami kesulitan.
Kontribusi Hormon Oksitosin
Dari sudut biologis, hormon oksitosin memainkan peran kunci dalam membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak. Hormon ini, yang sering disebut sebagai ‘hormon cinta’, bisa membuat seseorang lebih lembut dan mudah luluh. Dengan demikian, sikap ayah yang ‘nggak tega’ bukan hanya soal disiplin, tetapi juga faktor alami dari respons emosional yang dihasilkan oleh tubuh.
Mengelola Emosi: Kunci dalam Pola Asuh
Menurut penelitian di International Journal of Environmental Research and Public Health, kepercayaan diri ayah dalam merespons emosi anak (father self-efficacy) sangat berpengaruh. Jika ayah merasa cemas melihat anak sedih atau marah, ia mungkin: • menuruti permintaan lebih cepat, • menurunkan ketatnya aturan, atau • memilih mengalah untuk segera menenangkan suasana. Pola ini menunjukkan bahwa ‘tidak tega’ bukan sekadar lembut, tetapi juga terkait kemampuan mengatur emosi anak dan diri sendiri.
Keseimbangan dalam Asuhan
Kelembutan ayah, meski bermanfaat, perlu diimbangi dengan batasan yang jelas agar tidak menjadi terlalu permisif. Jika hanya fokus pada kehangatan, anak mungkin sulit memahami konsep tanggung jawab dan pengendalian diri. Namun, kehadiran ayah yang hangat bisa membantu anak belajar mengelola emosi, terutama jika didukung oleh konsistensi aturan dari kedua orang tua.
Pola asuh yang berbeda antara ayah dan ibu pada dasarnya wajar, asalkan keduanya tetap memiliki kesepakatan dalam hal penting. Ibu yang lebih tegas dan ayah yang lebih lembut bisa saling melengkapi, selama komitmen pengasuhan tidak terpecah. Dengan demikian, ‘nggak tega’ bukan kelemahan, melainkan cara unik dalam membangun hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.