New Policy: Purbaya Akui Subsidi BBM Untuk Orang Kaya RI Hampir 30 Persen

Purbaya Akui Subsidi BBM Untuk Orang Kaya RI Hampir 30 Persen

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa hampir 30 persen dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) dialokasikan kepada masyarakat kaya Indonesia. Ia juga menyatakan tidak akan memberikan stimulus tambahan meskipun harga BBM yang tidak bersubsidi terus meningkat. Menurut Purbaya, pengguna BBM nonsubsidi biasanya berasal dari kalangan ekonomi kuat.

“Mengapa subsidi diberikan lagi kepada yang mampu? Stimulus tambahan? Itu urusan mereka, biarkan saja,” ujarnya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4).

Purbaya menjelaskan bahwa kelompok masyarakat menengah atas hingga kaya, khususnya di desil 8, 9, dan 10, sudah menikmati berbagai bentuk subsidi. Oleh karena itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai tidak perlu diimbangi dengan stimulus tambahan. Menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), desil 8, 9, dan 10 merujuk pada masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah hingga kelas atas.

Purbaya mengatakan bahwa porsi subsidi yang diterima oleh kelompok mampu sudah cukup signifikan. “Saya lupa persentasenya, tapi hampir 30 persen subsidi BBM dialokasikan untuk mereka. Jadi, jika mereka harus bayar sedikit, itu wajar,” tuturnya.

Hal serupa pernah disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya, Sri Mulyani, yang menyebutkan bahwa BBM bersubsidi banyak dinikmati oleh kalangan kaya. Meski pemerintah menghabiskan anggaran subsidi energi hingga Rp502,4 triliun pada masa itu, fakta menunjukkan bahwa kelompok miskin hanya mendapat sebagian kecil.

“Uang ratusan triliun itu justru lebih banyak digunakan oleh masyarakat menengah atas,” ujarnya dalam konferensi pers, Agustus 2022 lalu.

Per 18 April, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga beberapa jenis BBM nonsubsidi. Pertamax Turbo dijual Rp19.400 per liter, naik dari Rp13.100 sebelumnya. Sementara Dextlite dibanderol Rp23.600 per liter, meningkat dari Rp14.200. Harga Pertamina Dex juga berubah menjadi Rp23.900, naik dari Rp14.500 di Maret.

Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, menambahkan bahwa harga Pertamax akan disesuaikan sesuai kenaikan harga minyak global. “Jika harga minyak terus naik, Pertamax pasti mengalami penyesuaian,” katanya saat diwawancara di kantornya, Senin (20/4). Menurutnya, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti pasar internasional.

Menteri ESDM menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi sudah naik karena mengikuti ICP yang ditetapkan dalam APBN sebesar US$70 per barel, sementara harga minyak dunia masih di atas angka tersebut. “Pertama kali, harga disesuaikan seperti saat ini. Tahap berikutnya, kita lihat kembali,” ujarnya.

Di sisi lain, BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan, meski harga minyak global fluktuatif. “Pemerintah menjamin bahwa BBM subsidi tetap berlaku, dan itu sudah diatur dalam peraturan Menteri ESDM 2022,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *