Hujan Deras Picu Banjir di Sejumlah Titik Denpasar dan Longsor Tabanan

Hujan Deras Picu Banjir di Beberapa Wilayah Denpasar dan Longsor di Tabanan

Badai hujan lebat yang mengguyur Bali pada Rabu (22/4) memicu genangan dan banjir di sejumlah titik Kota Denpasar serta longsor di Tabanan. Menurut laporan dari detikBali, intensitas curah hujan tinggi menyebabkan air menggenang di daerah-daerah tertentu. Salah satu titik yang terdampak adalah Jalan Gunung Rinjani, Desa Tegal Harum, Denpasar Barat.

Banjir di Denpasar

Banjir terjadi beberapa jam setelah hujan deras menghujam. Seorang warga, Hendra (23), menyatakan bahwa wilayah tersebut sudah tidak asing dengan fenomena banjir. “Bukan lagi banjir biasa, malah menjadi kejadian rutin di sini. Tadi sekitar pukul 3 lebih,” katanya. Menurut Hendra, air mulai naik cepat saat hujan deras turun, sementara saat hujan ringan, kondisinya kembali normal. “Kalau hujannya lebat, air meluap cepat. Kalau ringan, tidak ada masalah,” tambahnya. Tinggi genangan mencapai sekitar 30 sentimeter. Hendra, yang berjualan di wilayah tersebut, mengatakan bahwa banjir besar pernah terjadi, hingga membuat area sekitar mirip kolam.

Longsor di Tabanan

Di sisi lain, longsor terjadi di area barat tebing jalan yang menghubungkan Desa Peken Belayu dengan Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan. Fenomena ini dipengaruhi oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Camat Marga, I Gede Nengah Sugiarta, menjelaskan longsor susulan terjadi setelah hujan lebat pada siang hari. “Longsor terjadi sekitar pukul 3 sore tadi, saat hujan sangat deras,” ujarnya. Material yang terlempar ke Sungai Yeh Ge mencapai ukuran signifikan, termasuk pohon utuh yang terbawa. Akibatnya, gelombang air besar muncul dan memasuki areal wantilan pura di sebelah sungai.

“Air mengikis tanah di longsoran pertama sehingga longsor susulan kembali terjadi di sebelahnya,” kata Sugiarta.

Sejumlah warga di sekitar lokasi longsor telah diberi peringatan untuk tidak beraktivitas di dekat area rawan. Perbekel Desa Peken Belayu, Ida Bagus Nyoman Parwata, mengungkapkan bahwa pihaknya khawatir akan terjadi longsor ketiga jika tidak segera diatensi. “Termasuk bangunan di sebelahnya juga sudah kami imbau agar waspada,” tambahnya. Selain itu, pengusaha pembuatan pelinggih yang berada di dekat titik longsor juga mengosongkan tempat usahanya.

Kendaraan berat dilarang melintas di jalur yang terkena longsor, demi mencegah kondisi tebing memburuk. Camat Marga juga menekankan bahwa jalur tersebut berada dalam kewenangan provinsi, sehingga pihak kecamatan dan tokoh masyarakat telah melaporkan kejadian ini ke Dinas PU Bali. “Kami berharap segera diatensi agar tidak menimbulkan kejadian lebih parah,” tegasnya.

Baca berita lengkapnya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *