Meeting Results: Pembantaian Sabra & Shatila, Bukti Israel Tak Mau Damai dengan Lebanon
Pembantaian Sabra & Shatila, Bukti Israel Tak Mau Damai dengan Lebanon
Meskipun pemerintah Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari mulai Kamis (16/4), seperti diungkapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, masyarakat Israel tetap menolak perdamaian. Kesepakatan ini diraih setelah pertemuan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun, tetapi tidak disambut dengan antusiasme oleh penduduk negara itu. Pengamat politik di Jaffa, Tel Aviv, Abed Abou Shhadeh, menilai bahwa gencatan senjata dianggap sebagai usaha yang tidak berarti.
“Kata ‘perdamaian’ tidak pernah muncul dalam kamus politik Israel selama 15 tahun terakhir,” ujar Shhadeh, dikutip Al Jazeera, Kamis (16/4). “Akal sehat mengatakan bahwa setiap negara harus ingin berdamai dengan tetangganya. Namun, di kalangan publik Israel, tidak ada pembicaraan tentang perdamaian. Tidak ada negosiasi diplomatik yang jujur,” tambahnya.
Pembantaian Sabra dan Shatila: Kekejaman yang Tidak Terlupakan
Pembantaian di kamp pengungsi Sabra dan Shatila pada 16-18 September 1982 menunjukkan kekejaman Israel terhadap Lebanon. Insiden ini terjadi saat pasukan Israel, dipimpin oleh Menteri Pertahanan Sharon, menyerang Lebanon setelah invasi besar-besaran pada Juni 1982. Militer Israel mengepung kota Beirut, menembak dari gang-gang, dan membunuh keluarga yang sedang makan malam setelah memecah pintu rumah mereka.
“Selama beberapa hari, para penyerang memotong organ tubuh korban, memperkosa wanita, dan menembak pria dari rumah mereka. Bahkan binatang seperti anjing dan kucing pun dibunuh,” tulis Jonathan C Randal, mantan wartawan New York Post, dalam bukunya “Tragedi Lebanon.”
Dalam operasi ini, ratusan ribu warga sipil Palestina yang dievakuasi oleh PLO diberi jaminan keamanan oleh AS. Namun, mereka tetap menjadi korban. Banyak yang tewas di tempat tidur sambil terbaring dalam piyama dan selimut yang berlumuran darah. Sejumlah anak-anak berusia tiga hingga empat tahun ditemukan terluka di apartemen mereka. Pembantaian mengakibatkan kematian sekitar 2.000 hingga 3.500 warga sipil Palestina dan Lebanon.
Sharon dan Kekuasaan yang Tak Pernah Berakhir
Kesepakatan gencatan senjata tidak menghentikan kekejaman. Sharon, yang dikenal sebagai tokoh garis keras, malah terpilih sebagai Perdana Menteri Israel pada 2001. Empat tahun kemudian, dia mengalami stroke ringan hingga dirawat di Yerusalem. Meski sakit selama delapan tahun hingga koma, ia tetap menjadi bagian dari sejarah dengan sebutan “Penjagal dari Beirut,” yang melekat hingga wafat pada 11 Januari 2014.
Bayan Nuwayhed al-Hout, jurnalis dan sejarawan Palestina, dalam bukunya “Sabra dan Shatila: September 1982,” mencatat setidaknya 1.300 korban yang disebutkan nama mereka. Ia memperkirakan jumlah korban maksimal mencapai 3.500 orang. Namun, hingga kini tidak ada keadilan yang diberikan kepada para pelaku. Mereka melenggang bebas dari hukuman, sementara kekejaman terus diingat sebagai tanda hubungan Israel dan Lebanon yang tidak pernah benar-benar damai.