Topics Covered: Presiden Iran Senang Israel Manut ‘Dipaksa’ Gencatan di Lebanon
Presiden Iran Senang Israel Manut ‘Dipaksa’ Gencatan di Lebanon
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Israel terpaksa menerima gencatan senjata di Lebanon. Dalam pidatonya yang tayang melalui televisi pada Jumat (17/4), ia mengungkapkan bahwa negara itu “dipaksa mengumumkan gencatan senjata” melalui hasil diplomasi yang kuat. “Israel tidak berhak menyerang Hizbullah dan pihak-pihak lain di Lebanon,” ujarnya, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Dalam wawancara yang sama, Pezeshkian menyampaikan apresiasi kepada Pakistan sebagai mediator dalam negosiasi antara AS dan Iran. Ia menekankan bahwa upaya Pakistan dalam mendukung jalur diplomasi “telah menjaga martabat serta kebanggaan Iran” secara baik. Pemimpin Iran tersebut juga menegaskan bahwa Teheran terus berupaya mempertahankan kawasan dalam keadaan damai, sambil mempertahankan wilayahnya dengan bermartabat.
“Kita akan tetap berpegang pada prinsip dan posisi kita, dan hal itu harus diakui oleh pihak lain,” tambah Pezeshkian.
Sementara itu, Israel akhirnya menyetujui gencatan senjata setelah mengalami serangan udara berhari-hari terhadap Lebanon. Serangan tersebut fokus pada milisi Hizbullah, yang merupakan sekutu Iran. Sebelumnya, Iran menolak kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan AS selama dua minggu sejak 8 April. Namun, setelah tekanan diplomatik, Israel akhirnya terlibat dalam perjanjian tersebut.
Gencatan senjata Israel dan Lebanon diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut Trump, kedua pihak sepakat untuk menandatangani gencatan senjata selama 10 hari, mulai Kamis (16/4) pukul 17.00 waktu setempat. Kesepakatan ini tercapai setelah pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
“Kedua pemimpin tersebut telah menyetujui, bahwa demi mencapai perdamaian antarbangsa, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata selama 10 hari pada pukul 17.00,” tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip Al Jazeera.
Pezeshkian juga menuduh Amerika Serikat dan Israel memperparah kekacauan serta perang di kawasan dengan menghabiskan para komandan militer, politisi, ilmuwan, dan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa Iran tidak pernah mengejar senjata nuklir dan terus berupaya menciptakan stabilitas di wilayah tersebut.