Main Agenda: FGD IPB bahas penguatan rantai pasok kelapa di Minahasa Selatan

FGD IPB bahas penguatan rantai pasok kelapa di Minahasa Selatan

Di Jakarta, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan sesi diskusi lintas sektor untuk mengupas tuntas strategi penguatan sistem distribusi kelapa serta pembentukan model kemitraan antara produsen dan pengolahan. Acara ini bertujuan meningkatkan nilai tambah bagi petani sekaligus menjawab tantangan pasar yang semakin dinamis. Dalam keterangan resmi, Chief Manufacturing Officer PT Sasa Inti Sumardi mengungkapkan bahwa desain rantai pasok yang komprehensif diperlukan agar mampu memberikan keuntungan yang seimbang bagi para pengusahanya.

FGD dengan Format Hybrid

Diskusi yang diadakan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) ini berlangsung secara hybrid pada Selasa (7/4). Acara bertajuk “Penguatan Kapasitas Rantai Pasok dan Kemitraan Penyediaan Bahan Baku Kelapa melalui Kerja Sama Pentahelix” diikuti oleh berbagai pihak, termasuk peneliti, pemerintah, industri, dan kelompok masyarakat. Poin utama yang dibahas mencakup peningkatan kapasitas rantai pasok, pengembangan model kerja sama antar sektor, serta potensi pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Minahasa Selatan sebagai Sentra Produksi Kelapa

Sulawesi Utara, terutama Minahasa Selatan, dianggap sebagai salah satu pusat produksi utama kelapa nasional. Luas perkebunan sementara mencapai 47.164 hektare, dengan produksi tahunan sekitar 42.209 ton. Dalam FGD tersebut, peserta menyoroti peningkatan aktivitas industri pengolahan di daerah sentra, yang berdampak pada persaingan sumber bahan baku. Hal ini memicu ketidakstabilan pasokan dan fluktuasi harga di tingkat petani.

Peran Kemitraan dalam Penguatan Rantai Pasok

“Penguatan rantai pasok kelapa memerlukan pendekatan berbasis data, riset, dan kemitraan yang setara,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Prof. Dr. Ir. Hariyadi, MS.

Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti Rida Atmiyanti menekankan perlunya kerja sama jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen petani, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku. Dari sisi akademik, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan menilai kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri dapat memperkuat daya saing kelapa secara berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan para petani.

Partisipan yang Beragam

FGD ini melibatkan berbagai elemen, termasuk akademisi, pemerintah pusat dan daerah, perusahaan industri, kelompok petani, asosiasi, serta pihak-pihak terkait lainnya. Diskusi dirancang untuk menciptakan solusi yang integratif, memadukan kebijakan dan praktik lapangan guna mendukung hilirisasi kelapa secara optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *